Anak-anak dalam Jeratan Konflik

By

Dalam film The Lord of The Rings: The Two Towers, diceritakan ketika bangsa Rohan harus menghadapi ancaman dari pasukan Uruk – Hai atas perintah dari kekuatan jahat Shauron yang ingin menghancurkan dan memusnahkan peradaban umat manusia, Raja Theodon terpaksa memerintahkan pasukannya agar mengumpulkan anak-anak dan kaum papah untuk ikut bertempur melawan makhluk Orc tersebut. Keputusan ini pun kemudian mendapat pertentangan karena melibatkan anak-anak dan kaum papah dalam medan perang bukanlah pilihan yang tepat, sebab sejatinya mereka bukanlah prajurit. Namun keputusan pahit tetap diambil lantaran mereka kalah jumlah dengan pasukan musuh.

Kisah tentang keterlibatan anak-anak dalam peperangan rupanya tidak saja hanya ada di dalam film fiksi yang diadaptasi dari novel karya J. R. R. Tolkien tersebut.

Sejarah mencatat, ketika masa perang dunia berlangsung, tentara Jerman diketahui juga banyak melibatkan anak-anak untuk turut serta dalam medan pertempuran.

Pada tahun 1936 saja, Hitler saat itu mewajibkan anak-anak di Jerman untuk mengikuti Divisi Hitlerjugend dan jumlahnya mencapai 4 juta di tahun yang sama.

Hitlerjugend atau Pemuda Hitler merupakan divisi yang dibentuk oleh Adolf Hitler pada akhir Perang Dunia II. Pasukan itu terdiri dari pemuda dan anak-anak yang dijadikan sebagai tentara untuk diumpankan dalam medan tempur di garda terdepan. Mereka kebanyakan berada pada rentang usia 10 sampai 18 tahun.

Sejak kecil, mereka semua dipaksa untuk mempelajari cara berperang. Bagaimana melakukan organisasi dan melatih kemampuan untuk bertahan hidup di tengah kecamuknya perang. Hitler menyiapkan mereka semua agar kelak tak kekurangan tentara dalam menghadapi ancaman pasukan sekutu.

Apa yang dilakukan oleh Hitler tersebut sifatnya absolut. Tak ada pihak yang berani menentang meski anak-anak mereka diboyong ke kamp pelatihan untuk dijadikan tentara yang nantinya akan dikirim ke medan-medan perang. Meski kemudian, sebagian besar dari mereka tidak pernah lagi kembali ke rumah dalam kondisi hidup.

Mereka terpaksa harus berdiri di tengah barisan dengan menenteng senjata yang jauh lebih besar dari ukuran badannya. Tangan mungilnya yang halus, menjadi kasar layaknya kuli panggul di pasar ikan. Wajah ceria dan menggemaskan pun perlahan menguap menjadi raut ketakutan oleh sesuatu yang tidak pernah mereka pahami atas konflik yang terjadi.

Saat itu, orang berkeyakinan bahwa anak-anak tak lebih dari sebuah replika orang dewasa dalam bentuk fisik yang lebih kecil, miniature adults. Yang membedakan antara anak-anak dan orang dewasa hanya pengetahuan dan cara berpikir. Selebihnya, sama. Karenanya, wajar jika dalam banyak kasus, anak-anak selalu dilibatkan dalam perang yang sebetulnya bukanlah dunia mereka.

Rupanya, dalam dunia modern saat ini, kondisi serupa juga terjadi dimana anak-anak dijadikan sebagai objek atas ambisi orang-orang dewasa.

Tentu kita tidak asing lagi dengan kelompok ISIS yang menguasai hampir separuh wilayah Suriah dan menjadikan negara ini terjungkal dalam kontestasi perekonomian global. Boleh dibilang, Suriah menjadi salah satu negara yang gagal akibat konflik sektarian yang telah merenggut ratusan ribu jiwa. Bahkan akibat konflik tersebut, jutaan rakyatnya terpaksa minggat dari negaranya dan mencari suaka ke negara-negara maju.

Melalui kampanye Daulah Islamiyah, ISIS berhasil merekrut kelompok dari berbagai dunia untuk dijadikan sebagai tentara. Bahkan kelompok ini pun menjanjikan berbagai kenikmatan hidup bagi mereka yang menyambut seruan untuk hijrah dan mengambil sumpah bai’at kepada pimpinan tertingginya, Abu Bakar Al Baghdady.

Secara terang-terangan, lewat berbagai video yang diunggah melalui situs-situs resmi ISIS menunjukkan tentang bagaimana anak-anak kecil dilatih dalam berbagai keterampilan militer, termasuk cara membunuh.

Pilihan untuk melibatkan anak-anak tersebut tentu tidaklah lepas dari kondisi geopolitik negara Suriah yang didera konflik yang tak kunjung usai. Dan ISIS sendiri memahami akan konsekuensi sebagai kelompok militan yang menyatakan sikap pertentangan terhadap berbagai kelompok lain yang berseberangan dengan mereka, termasuk kepada pemerintah Suriah.

Bahkan tidak jarang, kelompok ini menjadikan anak-anak sebagai eksekutor terhadap orang-orang yang dianggap tidak sejalan dengan titah perjuangan ISIS.

Persoalan akan keterlibatan anak-anak dalam peperangan, merupakan dampak dari buruknya struktur sosial di daerah konflik modern atau daerah kumuh yang padat penduduk dan mengakibatkan anak yatim rentan terhadap indoktrinasi sebagai agen perubahan. Atau sebagai penentu dalam pertempuran di masa mendatang. Karenanya, anak-anak dianggap lebih mudah untuk direkrut dan secara sukarela menjadi tentara sebagai pilihan mereka untuk bertahan hidup.

Bagi kita, mungkin akan berpikir bahwa dunia memang kadangkala kejam dan tak adil. Anak-anak kecil dipaksa untuk menanggung beban atas kesalahan yang telah dibuat oleh orang-orang dewasa.

Anak-anak yang harusnya hidup dalam dunia imajinasi dan menikmati masa kecilnya, direnggut paksa oleh orang-orang dewasa dan dihadapkan pada getirnya medan peperangan yang tidak pernah mereka lakukan. Dengan kata lain, anak-anak dipaksa menanggung ‘dosa’ dari pada pendahulunya. Bahkan harus mengumpankan diri menjadi martir melalui iming-iming surga.

 

Sumber foto: https://clarionproject.org/islamic-state-video-shows-8-year-olds-learning-how-kill-50/

Leave a Comment

Your email address will not be published.

1 + 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like