LUNPIA SEMARANG CIK ME ME: Melintas Zaman, Bertahan sampai Milenial

By

 

Melintas zaman, penganan yang khas dengan rebung alias bambu muda ini tetap bertahan hingga sekarang. Dari abad ke-19 hingga era milenal. Sampai-sampai penganan ini dijuluki kawula muda sebagai lunpia gaul.

Adalah Lunpia Semarang. Meliani Sugiarto alias Cik Me Me, sebagai generasi ke – 5 Lunpia Semarang, jatuh bangun mempertahankan Lunpia Semarang sebagai warisan budaya Nusantara.

Sempat diklaim Malaysia, Cik Me Me berusaha mempertahankan, melestarikan, agar anak bangsa tidak kehilangan warisan budayanya. Ini juga mengingat makanan ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional tak benda. Penganan hasil akulturasi ini juga jadi simbol kuat bangsa pendatang Tionghoa dengan pribumi Jawa hidup damai berdampingan.

Secara histori, Lunpia Semarang ini kuat dengan akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa. Berawal dari tahun 1870, dari engkong buyutnya yakni Tjoa Thay Yoe yang menikah dengan orang Semarang yakni Mbok Wasi. Tjoa Thay Yoe punya latar belakang budaya sebagai Cina perantauan, sementara Mbok Wasi dengan latar belakang tradisionalnya sebagai sosok pribumi. Pernikahan itu menimbulkan persenyawaan resep, hingga tercipta Lunpia Semarang.

“Mereka ini punya kesamaan profesi, sama-sama pedagang keliling. Sering bertemu, saling jatuh cinta hingga akhirnya jadi sepasang suami istri. Akhirnya tercipta perpaduan angara dagangan mereka masing-masing, yang kita kenal Lunpia Semarang ini,” kata Cik Me Me membuka obrolan dengan tim ruangobrol.id, Sabtu (18/8/2018) lalu di Gerai Lunpia Delight, Jalan Gajah Mada, Kota Semarang.

Secara urutan, Cik Me Me adalah generasi ke-5 Lunpia Semarang. Dari awalnya Tjoa Thay Yoe ini, berturut-turut yakni Generasi ke- 2 (1930) Tjoa Po Nio – Siem Gwan Sing, Generasi ke- 3 (1960) Siem Swie Hie – Swiem Hwa Nio, dan Genersi ke-4 Lunpia Semarang adalah Tan Yok Tjay.

Dari generasi ke generasi, Lunpia Semarang ini terus dipertahakan. Tentu saja oleh Cik Me Me yang bercerita sejak kecil sudah sangat lekat dengan lunpia. Ayahnya itu, sepanjang harinya berjualan lunpia di tepi Jalan Mataram Semarang atau sekarang dikenal dengan Jalan MT. Haryono.

Cik Me Me kecil juga hampir tiap hari membantu ayahnya berjualan. Rutinitas itu melecut semangat Cik Me Me untuk punya cita-cita berdagang lunpia yang sukses.

“Jadi kalau bicara lunpia, saya katakan lunpia ini sebenarnya sudah jadi urat nadi kehidupan saya,” lanjutnya.

Cik Me Me tidak ingin Lunpia Semarang hilang ditelan zaman, tapi sekaligus harus tetap mempertahankan ciri khasnya. Sebab itulah, ciri khas lunpia dengan bahan baku rebung bambu pilihan tetaplah dipertahankan.

Tetapi juga, berbagai varian rasa terus diinovasikan. Misalnya; mengkombinasikan dengan daging kepiting, ikan kakap, ada pula yang dinamai Kajamu alias Kambing Jantan Muda yang khas dengan rasa pedas karena bertabur aneka rempah hingga dikombinasikan dengan jamur merang dan kacang mete.

Inovasi rasa terus dilakukan agar Lunpia Semarang tak kalah saing dengan varian kuliner mancanegara yang kini membanjiri Indonesia. mencoba merebut selera lidah Nusantara.

“Jadi tidak hanya, misalnya cokelat saja yang bisa ditabur kacang mete, tapi lunpia ini bisa. Ini kawula muda menyebut sebagai lunpia gaul,” ungkapnya.

Untuk meyakinkan konsumennya, termasuk melihat banyaknya umat Muslim juga yang menyukai lunpia, Cik Me Me mendaftarkan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mendapat sertifikasi halal. Bahkan oleh MUI, Lunpia Semarang ini ditetapkan jadi pelopor lunpia bersertifikasi halal.

“Supaya umat Muslim tidak ragu untuk menikmati kuliner tradisional kita,” sambungnya.

Sampai hari ini, Cik Me Me terus bergelut dengan bisnis lunpia. Jatuh bangun jadi hal biasa, semangat harus tetap dijaga. Cik Me Me juga mengaku terinspirasi dari para pejuang kemerdekaan Indonesia yang semangatnya pantang mundur mengusir penjajah.

“Kita harus semangat, jangan lekang oleh bara api, jangan lapuk karena genangan,” tutupnya.

 

FOTO EKA SETIAWAN

Meilani Sugiarto alias Cik Me Me di gerai Lunpia Cik Me Me miliknya di Jalan Gajah Mada Kota Semarang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: