Menolong Tak Harus Ribet

By

 

Beberapa hari ini saya sedang senang sekali. Sebabnya apa? Di kota tempat saya tinggal, Kota Semarang, sedang muncul kegiatan yang menurut saya sangat keren.

Ini mengenai sekumpulan anak-anak muda dari berbagai latar belakang yang tumplek blek jadi satu perkumpulan namanya Rumah Pancasila dan Klinik Hukum.

Anggotanya ada berbagai macam. Mulai dari mahasiswa yang enggak lulus-lulus, wartawan, advokat, calon advokat, pengangguran paruh waktu, ibu rumah tangga, hingga pengangguran total. Latar belakang keyakinannya pun berbeda-beda.

Mereka-mereka ini gemar berburu. Bukan berburu hewan atau setan, melainkan berburu orang-orang susah ataupun siapa saja yang membutuhkan bantuan dan lepas dari perhatian pemerintah.

Setelah berburu informasi, teknisnya mereka akan datangi yang bersangkutan. Setelah dipastikan memang betul informasi bahwa mereka itu butuh bantuan, maka full team akan mendatangi lokasi itu dan memberikan bantuan yang mereka perlukan.

Semingguan ini, dari yang saya tahu, mereka yang dibantu mulai dari anak-anak panti asuhan diberi perlengkapan sekolah, ada juga atlet-atlet Taekwondo yang hendak berangkat ke Malaysia untuk tanding internasional dengan biaya sendiri, hingga penyandang disabilitas yang hampir 14 tahun hanya bisa terbaring lemah.

Lalu uangnya dari mana? Mereka ini urunan, sesuai kemampuan kantong masing-masing. Kalau yang nggak punya duit, ya menyumbang apa saja. Termasuk tenaga dan pikiran. Pokoknya semuanya berkontribusi untuk kebaikan.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum itu, Yosep Parera, mengatakan hidup di Indonesia seharusnya saling gotong-royong.

Gotong-royong itulah sebetulnya makna dari Pancasila itu sendiri. Karena, untuk bisa hidup manusia tidak mungkin sendirian mengurus segala kebutuhannya.

Pasti butuh bantuan orang lain. Di sinilah, saling bantu jadi ciri khas yang sangat indah bagi manusia, apalagi Indonesia yang punya Pancasila.

Untuk saling menolong juga tidak perlu ribet apalagi sampai membawa-bawa nama agama.

“Kalau menolong ya menolong saja, tinggalkan atribut kita (agama), semua dilepaskan, kita datang sebagai manusia yang menolong sesama manusia,” kaya Yosep pada suatu obrolan di Semarang.

Wah, betul juga. Kan tidak enak juga kalau mau menolong terus pilih-pilih agama. Misalnya orang sudah terkapar di jalan, lalu mau ditolong terus tanya dulu; suku apa? agamamu apa? Kalau satu agama baru ditolong, kalau nggak dibiarkan saja.

Lha kalau kejadian begitu, menolong tapi pilih-pilih, rasa-rasanya beragama kok malah jadi tidak manusiawi.

Jadi memang betul sih yang dikatakan Pak Yosep tadi. Kalau menolong ya menolong saja, tidak usah melihat latar belakang apalagi keyakinannya. Menjadi baik itu gampang, tidak ribet.

Karena juga memang penampilan, bukan ukuran baik buruknya seseorang. Menjadi baik juga rasa-rasanya tak berbanding lurus dengan penampilan.

Misalnya apa? Apa kalau bersurban sudah pasti baik? Belum tentu juga. Buktinya banyak juga yang bersurban tapi hobi sweeping bawa pentungan. Bukan menebar kebaikan malah menebar ketakutan.

Gus Dur, Presiden ke-4 Indonesia tercinta, pernah berujar: “Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu”

 

Sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTtTxzPp1sP7cBfae-UeGxYP3LRf9_qaq-Js5wecqpdL8I_ut3mHg

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

two × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like