Joni : Contoh Sukses Anti Tiktok

By

Siapa yang tak kenal Joni si Pemanjat Tiang? Yohanes Ande Kala atau Joni menjadi tamu undangan Presiden Jokowi di Istana hari ini. Didampingi ibu, bapak dan seorang bapak-bapak yang selalu ada disamping Joni (ngakunya yang bawa Joni ke Jakarta waktu bareng Hotman Paris), Joni tersenyum lebar setiap bertemu siapapun. Presiden dan Wakil Presiden langsung menyalaminya begitu masuk ruangan makan siang. Joni saat itu duduk di Meja bersama Mensetneg, Presiden, Wapres, seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dan seorang anggota Gita Bahana Nasional (GBN). Kece sekali kau Jon!

“Joni mau minta apa ke saya?” Tanya Presiden Jokowi seperti yang dilansir Kompas.com setelah sebelumnya menjawab banyak pertanyaan dari Presiden.

“Sepeda” Jawab Joni dengan wajah tersenyum lebar polos.

Semua orang tertawa melihat Joni.

“Kamu jauh jauh dari Belu ke Jakarta hanya minta sepeda. Apa hanya itu? Mau minta apa?” Tanya Presiden lagi.

Joni tersenyum lagi, “Minta dibikinin rumah saja” Jawab Joni.

“Nah begitu. Sudah itu aja sepeda sama rumah. Jangan nanti saya tanya lagi, nambah lagi kamu,” kata Jokowi disambut senyum khas Joni.

Joni terkenal pasca aksinya memanjat tiang bendera tanpa stunman di upacara Kemerdekaan Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Alasannya sederhana, ia ingin bendera merah putih berkibar. Alasan sederhana tersebut membawanya duduk bersama putra-putri Paskibraka dan GBN pilihan. Joni gak dipilih dan ini bukan gimmick, Joni hadir di media dengan ketulusan.

Begitupun ketika ia datang menghadiri Asian Games bersama orang tuanya di jajaran tamu VVIP. Joni tak perlu jadi pejabat saat itu, alasan sederhana tadi yang membawanya duduk di kursi tersebut.

Pertemuan Joni dengan Presiden juga membuat rumahnya kelak direnovasi, biaya pendidikannya terjamin hingga perguruan tinggi dan mendapat uang ‘jajan permen’ dari Hotman Paris sebesar 50 juta rupiah. Joni juga akan ke Dufan dan Taman Mini lho! Ibu dan bapaknya pun tak tahu harus bilang apa di media. Namun haru dan bangga terpancar di wajah mereka.

Siapa sangka anak perbatasan Indonesia bisa masuk istana karena suka panjat pohon sedangkan anak perbatasan Jakarta cuma bisa main Tiktok. Joni ingin jadi tentara, sementara anak zaman now ingin jadi selebgram. Joni cinta Indonesia dari perbatasan Indonesia-Timor Leste, sedangkan anak alay cinta pacar di perbatasan tembok rumah Pak RT. Alamak!

Jauh dari modernitas dan ibu kota tak membuat Joni benci negara ini. Bahkan ia mencintai negara hingga rela naik tiang 20 meter. Sedangkan anak facebook komentar tentang korupsi. Boro naik tiang 20 meter, dikasih uang beli garam ke warung saja malah dibeliin quota. Joni boleh tinggal di perbatasan, tapi cintanya seperti ia tinggal di ibu kota. Sedangkan cabe tiktok tinggal di ibukota, tapi mentalnya perbatasan 🙁

Joni telah menampar para terong cabe zaman now. Joni gak punya facebook tapi bisa masuk istana, tapi anak alay punya tiktok tapi selalu dimarahin mama. Gimana mau masuk istana?

Yakin deh, pulang ke Belu, Joni tak kemudian jadi Bowo. Joni tetap Joni, hanya sekarang dia ke sekolah pakai sepeda. Joni adalah contoh sukses generasi masa depan tanpa tiktok.

Sumber gambar : http://m.tribunnews.com/nasional/2018/08/19/kisah-joni-sang-pemanjat-tiang-bendera-langganan-juara-panjat-pinang-sejak-2016

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like