LONTONG CAP GO MEH Mencicipi Saudara Tua Ketupat

By

Akulturasi Tionghoa-Jawa terjadi di berbagai segi kehidupan. Salah satunya kuliner. Tak terkecuali di berbagai kota lain, di Kota Semarang juga tersaji kuliner spesial hasil akulturasi dua etnis berbeda itu.

Adalah Lontong Cap Go Meh. Kuliner dengan menu khas lontong alias berbahan beras yang direbus menggunakan daun pisang, menjadi simbol purnama bagi etnis Tionghoa.

Lontong Cap Go Meh disajikan tiap tanggal 15 hitungan kalender Tionghoa atau 2 minggu selepas Imlek yang merupakan hari raya etnis Tionghoa. Sajian ini sebagai penanda sukacita dan rasa syukur.

Di Kota Semarang, Lontong Cap Go Meh bisa dinikmati setiap hari. Salah satunya ada di Restoran Semarang, di Jalan Gajah Mada. Sebuah rumah makan milik Jongkie Tio, yang mengusung konsep heritage.

Jongkie Tio yang merupakan pencerita sejarah, ketika ditemui tim ruangobrol.id awal Agustus lalu bercerita tentang kuliner khas ini.

“Orang Tionghoa itu selalu banyak perumpamaan. Seperti lontong kalau potong kan bunder, ini perumpamaan purnama,” kata Jongkie Tio.

Dia bercerita, merunut sejarah, etnis Tionghoa sudah datang ke Nusantara sejak tahun 400. Mereka yang datang semuanya laki-laki, dan tinggal berbaur dengan penduduk setempat. Mereka berinteraksi dengan penduduk lokal maupun pendatang dari etnis lain, seperti Arab maupun Eropa Belanda.

Proses dialog budaya itu terus berkembang. Salah satunya, adanya tradisi lokal Jawa adalah memberikan weh-wehan alias hantaran ketika hari besar. Seperti Hari Raya Lebaran. Penduduk lokal membuat ketupat, diberikan ke tetangga-tetangganya sebagai simbol rasa syukur. Salah satu tetangganya itu adalah etnis Tionghoa. Ketupat itu biasa dipadu dengan opor atau bahan gurih lainnya.

Nah perkembangannya, etnis Tionghoa ini akhirnya memodifikasi ketupat menjadi lontong. Ketupat yang dibuat dengan beras dibungkus janur, dimodifikasi bentuknya bulat memanjang dibungkus daun pisang.

Lontong ini dipotong dan disiram kuah opor. Ini juga dijadikan tradisi hantaran bagi orang Tionghoa kepada tetangga-tetangganya yang berbeda etnis. Waktunya ketika purnama selepas Imlek.

Namun demikian, sebut Jongkie, untuk sebuah kuliner disebut Lontong Cap Go Meh harus memenuhi 3 syarat; pertama adalah bubuk kedelai, kedua adalah docang yang merupakan parutan kelapa yang dikukus bersama kedelai, sementara ketiga adalah abing yakni kelapa yang manis, yang dikeringkan dengan gula. Itu dipadukan dengan irisan lontong disiram kuah opor.

“Kalau Lebaran kan penutupnya kupatan, nah kalau Tionghoa ini Lontong Cap Go Meh. Jadi yang you lihat kupat, lontong tukang sate itu asalnya dari sini. kupat yang dibikin lontong sama si Cina (Tionghoa) ini. Makanya saya bilang, kupat ini adalah saudara tua dari Lontong Cap Go Meh,” lanjut Jongkie.

Orang Tionghoa terus memodifikasinya. Secara umum ada 7 macam; lontong, kedua opor, ketiga sambal goreng, keempat docang, kelima bubuk kedelai, keenam abing dan ketujuh adalah kerupuk.

Untuk di rumah makan miliknya ini, Jongkie juga memodifikasi Lontong Cap Go Meh. Selain tujuh unsur yang sudah ada, ditambakan sambal goreng, tak hanya sambal goreng udang, tapi juga sambal goreng tahu, sambal goreng bung (rebung – bambu muda), sambal goreng buncis dan sayur lodeh.

“Ini salah satu yang paling disuka di sini,” sebut Jongkie.

 

 

FOTO EKA SETIAWAN

Lontong Cap Go Meh yang disajikan di Restoran Semarang

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like