JONGKIE TIO:   Pertahankan Budaya Lewat Varian Kuliner  

By

Walaupun berasal dari etnis Tionghoa, Jongkie Tio, sangat cinta terhadap Nusantara, terhadap Indonesia. Salah satunya, dalam setiap langkahnya tidak melupakan budaya. Baik budayanya sendiri maupun budaya lokal Nusantara tempat di mana dia hidup.

Dia bercerita tentang kesukaanya mendokumentasikan segala apapun yang berhubungan dengan budaya. Itu juga yang dia kembangkan di bidang kuliner. Sebab itulah, ketika awal membuka rumah makan pada tahun 1991 dulu yang bernama Restoran Semarang, Jongkie itu mengusung konsep budaya. Mengambil makanan kampung untuk masuk ke rumah makan besar. Restoran itu terletak di Jalan Gajah Mada sebelah utara Simpanglima Kota Semarang.

“Jadi dulu, saya buka tahun 91’. Sebelum itu tidak akan lihat bistik Jawa, mi Jawa di pinggir jalan nggak ada. Pasti tidak ada. Itu muncul sesudahnya tahun 91’, 92’ dan makin lama makin banyak,” kata Jongkie ketika ditemui ruangobro.id awal Agustus lalu.

Sebabnya, saat itu Jongkie dibantu masukan-masukan dari orang lain, membuat festival makanan kampung selama 3 hari. Semua makanan kampung yang bisa dia dapat dibawa ke gelaran tersebut.

“Sejak itu, oleh petinggi-petinggi di sini, dibikin bahwa orang harus mempunyai wisata kuliner di setiap kota. Kan di Kudus makanannya juga aneh-aneh (khas), Surabaya juga. jadi tiap kota harus ada wisata kuliner, mulai tahun 91’ itu mulai di sini,” lanjutnya.

Di usianya yang tak lagi muda, yakni sudah 77 tahun, Jongkie berharap apapun yang berhubungan dengan budaya harus dipertahankan dan dikembangkan. Sebab itulah, Jongkie merasa prihatin dengan generasi muda sekarang yang tampak ogah-ogahan dengan kuliner khasnya sendiri. Lebih memilih makanan cepat saji atau produk dari Barat.

“Lantas yang namanya kita punya makanan ke mana? Kalau yang muda tidak mau. Masa orang tahu kepala, nggak tahu perut, nggak tahu kaki?,” sebutnya.

Di rumah makan miliknya, Jongkie juga rutin menggelar pentas musik keroncong sebagai hiburan. Berbagai foto dokumentasi pribadi tentang bangunan sejarah ataupun budaya khas di Semarang juga dipajang.

Selain tentu saja menyajikan berbagai menu kuliner khasnya. Selain Lontong Cap Go Meh ada pula varian lain, di antaranya; Lunpia Semarang, Wedang Ronde, maupun berbagai kuliner lezat lainnya.

Berbagai varian menu akulturasi Tionghoa – Jawa lainnya juga disajikan Jongkie Tio. Mengingat, dari berbagai pendatang di Indonesia, yang terbanyak terjadi akulturasi budaya termasuk menghasilkan varian baru kuliner itu adalah Tionghoa. Sebab, mereka lebih dulu datang ke Nusantara, jauh sebelum bangsa-bangsa lain datang. Mereka juga berbaur dengan penduduk lokal.

Adanya varian kuliner hasil akulturasi beda etnis ini juga membuktikan kalau sejak dulu mereka bisa hidup damai berdampingan. Jongkie menyebut, asalkan ada toleransi, saling menghormati dan menghargai, pasti kehidupan akan aman.

“Jadi cinta dari mata turun ke perut, hehehe,” tutup Jongkie Tio.

 

 

FOTO RUANGOBROL.ID

Jongkie Tio (berbaju putih) saat berbincang dengan tim ruangobrol.id di rumah makan miliknya, Restoran Semarang, awal Agustus lalu. 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

two × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like