Malam Tirakatan

By

Malam ini, mungkin adalah momentum kegembiraan bagi anak-anak di negeri ini. Sebab apa, 16 Agustus malam ada tradisi di negeri ini menggelar malam tirakatan. Semacam ritual tahunan sebagai salah satu wujud rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang diperingati tiap 17 Agustus.

Lalu kenapa anak-anak gembira? Kalau di kampung saya, di Kota Tegal pinggiran Laut Jawa, pada malam tirakatan ini adalah momentum dibagikannya hadiah-hadiah bagi mereka yang menang lomba 17an. Beberapa kawan saya yang dari daerah-daerah lain di Indonesia juga bercerita  bagi-bagi hadiah pemenang lomba 17an  rata-rata dilakukan pas malam tirakatan itu.

Hadiah yang didapat biasanya berupa buku, pensil, pulpen atau perlengkapan sekolah lainnya. Bahkan pernah dijumpai hadiah itu berupa kaos, tapi kaos sponsor: mulai dari sabun colek sampai mi instan. Alhamdulillah, yang penting bukan kaos partai!

Kalau di kampungku, tidak sampai yang mahal-mahal seperti sepatu, tas, ataupun mungkin henpon. Meski tak mahal, tapi hadiah itu, yang biasanya dibungkus kertas kado warna cokelat, membuat kami gembira.

Datang ke malam tirakatan, pakai baju yang bagus bahkan kadang pakai sepatu, lalu deg-degan ketika namanya dipanggil pembawa acara untuk maju ke depan menerima hadiah, adalah bahagia. Ada kebanggaan tersendiri bisa maju di depan khalayak, minimal di antara warga satu kampung atau satu RT. Pemenang lomba!

Lomba-lomba itu memang biasanya digelar di awal-awal Agustus. Di antaranya, lomba panjat tebing  pinang, makan kerupuk, lomba sepak bola pakai daster, lomba balap karung, memasukkan pensil dalam botol, bawa kelereng pakai sendok, tarik tambang kapal, lomba karaoke, sampai para pemenang doorprize jalan santai.

Anak-anak yang tidak menang lomba, dan tidak dapat hadiah, bahkan ada beberapa yang nangis kejer. Tangisannya bisa membuat wajah orang tuanya merah padam. Cara mengatasinya hanya ada 1: diberi hadiah juga. Alhasil, kalau sudah kejadian seperti ini, biasanya panitia akan cari-cari alternatif memberikan hadiah atau anak yang baik hati menang banyak lomba juga sering membagi hadiahnya ke anak yang nangis kejer itu.

Kalau sudah diberi hadiah, tangisannya pasti mendadak reda. Senyumnya pasti merekah. Asyikkk dapat hadiah jugaaa. Dan kalau sudah seperti ini, pasti biasanya ada saja yang usil. Bahkan sampai pembawa acaranya. Ngomong gini: hadiahnya diambil lagi yaaa! Dengan suara khas pengeras suara yang kadang banyak noise.

Wah, kalau sudah seperti itu si anak yang sudah diam dari tangisannya pasti meledak lagi nangisnya bahkan lebih kencang. Mengalahkan suara si pembawa acara yang pakai mik. Hahaha! spontan biasanya yang hadir di malam tirakatan itu pada tertawa semua. Lalu sama-sama mencoba menenangkan tangis si bocah. Diberi hadiah, meredalah tangis.

Malam tirakatan ini juga jadi ajang makan-makan gratis. Walau sebenarnya uang untuk menggelarnya juga dari iuran 17an atau kas RT atau RW. Iuran biasanya ditarik seikhlasnya, tidak dipatok minimal tertentu. Yang mampu menyumbang banyak, kalau nggak mampu ya tidak dipaksa. Asalkan; tetap hadir di malam tirakatan, biasanya begitu yang dikatakan bapak-bapak atau pemuda kampung penarik iuran keliling.

Prosesi ritualnya biasanya begini. Setelah semua berkumpul, duduk melingkar beralaskan karpet, tikar, ataupun spanduk yang digelar di jalan kampung, maka pembawa acara segera memulainya. Kemudian semuanya berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya, disusul renungan kemerdekaan yang biasanya dibawakan sesepuh setempat.

Setelah itu, digelarlah acara potong tumpeng. Potongan pertama, alias yang paling atas, diberikan kepada sesepuh tadi. Sebagai tanda penghormatan. Disusul semua hadirin makan bersama mengambil sendiri-sendiri.

Ibu-ibu biasanya bertugas memberikan teh anget dalam gelas-gelas. Diedarkan ke seluruh hadirin. Di sela-sela itu biasanya diselingi hiburan. Entah itu nyanyi, baca puisi sampai menari. Itu biasanya tampil di panggung sangat sederhana, dibuat dari meja-meja yang ditumpuk, lalu ditutup karpet, yang belakangnya ada background dari kain lebar ditempel tulisan peringatan HUT RI.

Malam tirakatan kampung adalah ajang kumpul tetangga, baik yang Muslim, yang bukan Muslim, yang kecil, yang besar, orang kaya, orang miskin. Selain sebagai momentum perenungan kemerdekaan, terselenggaranya malam tirakatan adalah buah dari gotong-royong warga kampung. Dari warga untuk warga! Ini betul-betul teralisasi.

Begitupun dengan hadiah yang diterima anak-anak tadi. Dibeli dari hasil iuran warga, walaupun ada beberapa donatur yang menyumbangnya. Tapi sebagian besar, sekali lagi: itu adalah hasil gotong-royong.

Indah sekali Indonesia kalau seperti ini.

 

SUMBER FOTO: https://yunisura.files.wordpress.com/2011/08/dsc09693.jpg

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

nine − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like