Serial Angin Bercerita : Pria Bertopi Hitam dan Jamaah Ngopi

By

Suatu sore di sebuah warung kopi yang lumayan ramai di kawasan pinggiran kota, sekelompok orang sedang asyik berbincang-bincang. Warung itu berhiaskan pernak-pernik bernuansa merah putih sebagai bentuk partisipasi mereka ikut meramaikan suasana perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka ramai membicarakan kondisi negara yang sedang bergejolak menjelang pemilihan anggota legislatif dan presiden setahun lagi.
Awalnya mereka sama-sama mengeluhkan tentang harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik dan hasil kerja dari usaha mereka atau gaji dari tempat mereka bekerja yang selalu pas-pasan tidak ada peningkatan kesejahteraan. Padahal konon sudah hampir 73 tahun merdeka dan telah bergonta ganti rezim.
Lambat laun pembicaraaan mereka mulai membahas tentang penyebab dari semua itu lalu mencari siapakah yang paling bertanggungjawab atas semua kesusahan itu dan siapakah yang harus bertanggungjawab untuk melakukan perubahan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Asap rokok mengepul dan pudar bersamaku yang bertiup menerpa wajah-wajah lelah mereka. Namun di antara mereka ada seseorang yang memakai topi hitam yang sedari tadi tidak banyak bicara namun wajahnya tidak menyiratkan kelelahan atau menanggung beban. Semua yang ada di situ menyalahkan orang lain dan berharap orang lain yang mulai melakukan perubahan kecuali satu orang ini.
Yang satu menyalahkan pemerintah yang kebijakannya banyak yang tidak pro rakyat dan berharap pemerintahannya yang berubah. Yang satunya lagi menyalahkan perusahaan tempat ia bekerja yang dinilai tidak peka dengan kebutuhan karyawan sehingga tidak kunjung menaikkan gajinya. Yang satunya lagi menyalahkan para politikus yang ternyata bekerja untuk dirinya dan kelompoknya saja, tidak sesuai dengan janji kampanye mereka.
Selain itu, mereka juga tampak saling menunjukkan sumber rujukan dari pendapat mereka dari masing-masing gadget yang mereka pegang. Lama kelamaan pembicaraan mereka masuk ke bahasan tentang perlu tidaknya ganti presiden. Entah bagaimana, tiba-tiba jadi saling berdebat tentang siapa yang layak jadi presiden.
Lho kok jadi kompak bahas soal ganti presiden ? Apakah ganti presiden itu akan jadi solusi bagi masalah mereka semua ? Atau mereka terlalu berharap pada pergantian pemimpin pemerintahan untuk mengatasi masalah mereka ? Ah, aku hanyalah angin yang menjadi perantara gelombang suara mereka.
Orang yang tidak banyak bicara dan terlihat cukup tenang tadi kemudian angkat bicara.
“ Seringkali kita terlalu melihat persoalan itu ke luar tapi kurang melihat ke dalam, sehingga sekan-akan kesalahan itu ada di luar diri kita. Padahal terkadang masalahnya ada pada diri kita. Kita mungkin kurang bersyukur, atau gaya hidup kita yang mungkin banyak pemborosan di sana-sini, atau kita perlu meningkatkan inovasi kita dalam mencari nafkah.
Pemerintah atau pimpinan perusahaan yang tidak memikirkan kejahteraan kita itu adalah dosa mereka, tetapi bekerja dengan sungguh-sungguh, bersabar menghadapi kesulitan, dan mensyukuri setiap apa yang didapat adalah kewajiban kita. Kelak di akhirat kita tidak ditanya dengan apa yang mereka lakukan tetapi pasti ditanya tentang apa yang kita lakukan.
Janganlah kita sibuk menyalahkan orang lain apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Selama kita telah melakukan kewajiban kita dan tidak melanggar hak-hak orang lain, apalagi yang perlu dirisaukan ?”, orang bertopi hitam itu menghentikan perkataannya lalu menyeruput kopinya.
“ Lalu bagaimana terhadap kedhaliman yang dilakukan para pengusa kita atau pimpinan di perusahaan kita itu ? Apakah kita akan diam saja membiarkannya ?”, tanya salah satu dari mereka dengan nada gusar.
Orang itu kembali tersenyum.
“ Jika kita bisa menuntutnya maka lakukanlah dengan bijak, karena itu hak kita. Tetapi jika tidak terpenuhi, kita tetap harus memenuhi kewajiban kita sebagai pekerja atau sebagai warganegara. Kita tidak boleh lalu bertindak anarkis, memberontak, atau menggunakan jalan kekerasan, kecuali jika kita diserang lebih dulu, karena jika kita yang mulai bertindak anarkis maka kita telah sama-sama ikut terjerumus dalam dosa”.
“ Masalahnya kita ini sudah terlalu lama mengalami keadaan seperti ini mas. Jadi kalau tersulut provokasi sedikt saja, kita ini akan mudah ikut bertindak anarkis”, ujar yang lain lagi menimpali.
“ Itulah gunanya kita saling mengingatkan dan saling menguatkan, agar tidak terjerumus pada kondisi yang lebih buruk. Mari kita bersabar dan bekerja semaksimal mungkin, Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan usaha kita, pasti ada balasannya baik di dunia maupun di akhirat kelak”, ujar orang bertopi itu lagi.
“ Benar juga mas, kita hanya wajib berusaha sedangkan hasilnya itu urusan Allah SWT. Yang penting kita melakukan semuanya dengan benar dan tidak melanggar aturan. Barangkali para pemimpin kita itu cerminan dari kualitas diri kita juga”, kata orang di samping pria bertopi hitam itu.
“ Iya ya. Jika kita telah berusaha dengan benar dan bersungguh-sungguh dan menurut Allah SWT kita telah layak untuk memperoleh kejayaan, Allah SWT pasti kirimkan orang yang tepat untuk memimpin kita menuju perubahan yang lebih baik lagi. Barangkali kita ini memang belum layak untuk mendapatkan kejayaan”, ujar seorang bapak paruh baya yang duduk di dekat pintu.
Orang-orang itu pun akhirnya sama-sama tersenyum lega. Mungkin karena merasa lega telah sama-sama menumpahkan unek-unek mereka atau mungkin karena merasa mendapat energi baru dari pembicaraan mereka barusan.
Pria bertopi hitam membayar semua tagihan orang-orang yang makan dan minum kopi di situ. Semua yang ada di situ terkejut dan hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada pria bertopi hitam itu. Sebelum berpisah mereka tampak saling bersalaman dan berpelukan dan tak lupa bertukar nomor HP untuk mempererat tali persaudaraan mereka selanjutnya.
Pria bertopi hitam itu lalu berjalan kaki agak jauh dari lokasi warung kopi itu di mana ia meninggalkan sopir pribadinya bersama mobilnya. Tak lama kemudian mobil itu pun bergerak meninggalkan tempat itu sembari mengepulkan sedikit asap karena mobil itu termasuk mobil berteknologi terkini.

Source image : https://media.minumkopi.com/docs/2016/05/Suasana-di-dalam-Warung-Kopi-My-Way-800×601.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

4 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like