Move On dan Memaafkan seperti Po, Panda

By

Serial animasi Kung Fu Panda, tentunya sudah tak asing lagi di telinga kita. Film yang berkisah tentang seekor panda gendut jago kung fu alias seni bela diri Tiongkok, ternyata sarat pesan moral di dalamnya.
Seperti pada Kung Fu Panda 2, yang tayang di bioskop di Indonesia pada 2011 lalu. Pada serial itu dikisahkan karakter Lord Shen, si burung merak, yang berambisi besar untuk menguasai seluruh wilayah Tiongkok.

Sebagai raja diktator, Shen akan menghabisi siapa saja yang menghalangi misinya. Kekejaman Shen juga didorong rasa dendam terhadap orang tuanya ketika saat muda dia diusir.

Ambisi besar diliputi dendam itu membuat Shen melakukan segala cara asalkan misinya tercapai. Dikisahkan, Shen mendatangi seekor kambing peramal. Ternyata hasil ramalannya; Shen akan dikalahkan oleh pendekar hitam putih.
Shen takut luar biasa akan hal itu. Shen tahu, yang dimaksud adalah panda. Sebab itulah, dia membunuh semua panda yang ada di desa panda. Po selamat dari pembunuhan yang dilakukan Shen dan pasukannya.

Cerita berlanjut. Beberapa tahun kemudian, Po harus berhadapan dengan pasukan Shen yang sedang merampok harta masyarakat desa. Dari situ, Po ingat masa-masa kecilnya, termasuk orang tuanya, ketika terjadi pembantaian oleh Shen.

Po bersama The Furious Five (lima pendekar) ditugaskan untuk menghentikan misi Shen dan pasukannya. Pada pertarungan, Po harus bertarung satu lawan satu dengan Shen.
Saat itulah terjadi dialog di antara keduanya.
“Bagaimana kau menemukan kedamaian batin? Aku telah membunuh orang tuamu, semuanya. Aku memberi luka pada hidupmu?,” kata Shen dengan nada sedih kepada Po.
Po menjawab dengan santai.
“Dengar, itulah masalahnya Shen. Bekas luka disembuhkan. Apa yang bekas luka lakukan? Mereka memudar, kurasa. Kau harus peduli Shen. Kau harus melepaskan bekas lukanya di masa lalu, karena itu tidak penting lagi,” jawab Po.
Tak sampai di sini. Po melanjutkan kata-katanya.
“Satu-satunya hal penting adalah kau menjadi apa sekarang!,” sambung Po.

Di situlah, bisa kita ambil pelajaran dari dialog itu. Po sudah memafkan tindakan jahat Shen terhadap orang tuanya. Padahal itu adalah luka yang berat dan mendalam pada diri Po.

Ingatan pembantaian itu sering muncul di benak Po, mengganggu pikiran dan aktivitasnya. Tapi Po berusaha berdamai dengan itu, berdamai dengan masa lalu.
Po sudah tak mau memikirkan kenangan buruk itu lagi. Po fokus pada dirinya yang sekarang. Sebab itulah, Po akhirnya bisa mendapatkan kedamaian batin.

Menyembuhkan luka bukanlah perkara mudah. Apalagi luka yang lahir dan batin, yang terlihat secara kasat mata dan yang tidak. Seperti juga dialami oleh para korban ledakan bom oleh kelompok teroris.

Mereka ini kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan anggota tubuh alias menjadi cacat, disfungsi organ, hingga mengalami trauma hebat.

Namun, ternyata itu tidak berlaku pada semuanya. Tidak semua korban lalu menjadi dendam. Beberapa bisa berdamai dengan kenangan buruk yang pernah menimpanya.Padahal, ada beberapa jalan yang bisa dilakukan mereka untuk mengadili tindakan para pelaku. Dan Mereka memilih jalan memaafkan tanpa disertai diyat.

Seperti diungkapkan seorang korban Bom Bali. “Untuk apa kami dendam? Dendam tidak akan mengubah kondisi saya seperti semula. Saya hanya bisa menerima saja. Mungkin ini takdir yang Allah berikan kepada saya,” kata korban itu.
“Saya memaafkan mereka karena Allah Maha Pemaaf. Masa saya enggak membuka pintu maaf untuk mereka,” tambahnya.

Melihat statemen dari salah satu korban bom itu, penulis speechless. Padahal dia mengalami cacat berat di wajahnya akibat ledakan bom itu. Sungguh luar biasa lapang hati si korban ini, sampai-sampai mau memaafkan pelaku yang membuatnya cacat.

Di sisi lain, masih ada pula orang-orang yang memilih menyimpan dendam berkepanjangan atas kejahatan ataupun kesalahan yang pernah menimpanya. Bahkan, mungkin saja maaf memaafkan ketika Lebaran saja, bisa jadi setelah itu dendam lagi. Hehehe.

Jadi, sudah bisakah kita untuk saling memaafkan?

Source image : https://goo.gl/images/bhib5m

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like