MERCUSUAR WILLEM III SEMARANG Simbol Kejayaan Dagang Berjuang Melawan Rob

By

 

Bagi pelaut, keberadaan mercusuar sangatlah penting. Mercusuar, lewat pancaran cahayanya, sangat berguna untuk menuntun kapal masuk ke area pelabuhan.

Tak terkecuali keberadaan mercusuar di Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang. Mercusuar ini bernama Willem III, dibangun Belanda pada tahun 1884. Artinya, sampai sekarang usianya sudah 134 tahun.

Berdasar informasi dari berbagai sumber, mercusuar ini terbuat dari baja, menjulang setinggi 30 meter. Pancaran cahayanya bisa menjangkau jarak 20 mil, memandu pelaut yang akan berlabuh ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sekarang, dikelola di bawah Kementerian Perhubungan.

Sejarah mencatat, dibangunnya mercusuar itu pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda alias masa penjajahan, adalah untuk memandu kapal-kapal VOC yang akan berlabuh di Semarang.

Saat itu, Semarang jadi kota pengekspor gula yang besar. Sebab itulah, selain untuk kapal-kapal VOC alias kongsi dagang Belanda, Pelabuhan Semarang juga ramai disinggahi kapal-kapal besar dari berbagai negara.

Sekitaran pelabuhan juga dibangun gudang-gudang besar untuk menopang aktivitas ekonomi di sana. Namun, lambat laun perubahan terjadi. Termasuk lingkungan di sana.

Jalanan sekitar mercusuar, kini kerap banjir karena rob air laut. Namun perlahan, di sana mulai berbenah.

Seperti pada akhir Juli lalu ke sana, di depan mercusuar terlihat banyak pekerja yang sedang meninggikan tanggul pembatas antara laut dan daratan di sampingnya.

Terlihat pula pompa-pompa air menyedot rob yang menggenangi jalan. Ini karena terjadi penurunan permukaan tanah secara kontinyu, sehingga lambat laun permukaan air laut bisa lebih tinggi dari daratan.

Penyebab penurunan permukaan tanah ini bisa beragam. Di antaranya; penyedotan air tanah yang berlebihan, tanah-tanah dibiarkan kosong dan gundul sehingga memicu erosi, penebangan pohon secara serampangan, hingga kawasan tepi laut yang tanpa pohon seperti bakau, ini mengakibatkan abrasi.

Persoalan penurunan permukaan tanah ini tak hanya terjadi di Kota Semarang. Kota lain misalnya, pesisir Kota Tegal, Pekalongan maupun Demak. Persoalannya senada.

Sebab itulah, mari berdamai dengan alam, mencintainya dengan cara melestarikan. Bukannya kita ingin meninggalkan yang terbaik untuk anak cucu kita kelak?

 

 

FOTO EKA SETIAWAN

Mercusuar Willem III di Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Foto diambil 29 Juli 2018.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: