Rahasia Indomie Kalahkan Semua Jenis Ramen

By

Beberapa waktu lalu, lembaga asal Inggris Kantar Worldpanel merilis merk paling laris di dunia. Ternyata eh ternyata, Indomie menempati urutan ke delapan. Membanggakan bukan? Makanan pahlawan mahasiswa semester akhir ini dengan mudah ditemui di berbagai negara di dunia selain popularitasnya yang tak terkalahkan di Indonesia. Ah lebay kali.

Di Indonesia saja warung kopi kerap kali disebut Warmindo (Warung Masak Indomie) meski kadang yang dimasak adalah supermie. Meski harganya paling mahal dan ukurannya paling kecil dibanding merk lain, kenikmatan Indomie tetap menjadi favorit untuk dinikmati berbagai kalangan. Apalagi mie gorengnya, sekali seduh, aromanya menjangkau ratusan meter didepannya sampai bikin pengen batal puasa.

Sedangkan di luar negeri, Diaspora Indomie secara cerdas beradaptasi dengan rasa lokal. Misalnya di Singapura, masyarakat Singapura memiliki porsi makan lebih banyak dibanding Indonesia. Selain itu, mereka juga bukan pecinta micin (mungkin itu penyebab mereka lebih produktif). Indomie di Singapura punya ukuran dua setengah kali lipat dari Indonesia. Harganya pun $2.50 dolar atau sekitar Rp 25.000 , 10x lipat harga di Indonesia. Komposisi bumbu mecinnya tidak lebih gurih namun lebih asin dan manis. Rasa yang tidak jauh berbeda bisa kita temukan di Arab Saudi. Indomie dengan merk berbahasa arab ” الإندومي” memiliki kuah yang lebih kental. Dari negara islami hingga sekuler semua makan Indomie.

Upaya cerdas Diaspora Indomie tidak diikuti oleh Ramen. Ramen tidak mengikuti local culture. Tulisan bungkus ramen di berbagai negara menggunakan bahasa Jepang dan kadang bahasa inggris (kadang). Cita rasanya pun sama diberbagai negara. Ukuran mie yang besar mirip mie aceh dengan tambahan daging, kuah soyu, rumput laut dan bumbu cabai kering. Tidak semua orang menyukainya. Belum lagi Ramen yang tertulis bahasa Jepang itu nampak seperti antek asing yang masuk negara tujuan. Penjajahan macam apa ini? Kata si nasionalis.

Meski globalisasi telah terjadi puluhan tahun, tidak membuat masyarakat dunia paham akan keadaan ini dan mau menerimanya. Banyak dari mereka yang masih melihat produk negara lain sebagai hal yang asing. Fenomena ini dipahami betul oleh Indomie sehingga masuk negara manapun, Indomie tidak dianggap sebagai penjajah karena ia melakukan adaptasi dengan kebiasaan negara tujuan. Indomie juga menggunakan bahasa lokal pada tulisan di bungkusnya. Indomie kemudian menjadi ikon Indonesia meski sebenarnya ‘mie’ berasal dari China. Wew.

Masyarakat Indonesia pun tidak lantas anti dengan mie meski banyak yang anti dengan taipan China. Apalagi di Indonesia, Indomie lebih beragam dan menyamakan makanan daerah. Indomie rasa rendang misalnya dapat menjadi alternatif rendang di rumah makan padang. Harganya 6 kali lebih murah. Yang penting rasa!

Ramen harus belajar kepada Indomie bagaimana diaspora yang cerdas agar bisa diterima di semua segmentasi masyarakat. Bangsa ini juga harus belajar pada Indomie bahwa kita harus senantiasa fleksibel dan bisa beradaptasi. Indomie tidak lantas kehilangan derajatnya ketika ia berinovasi, justru ia tetap laris manis ditengah serbuan berbagai merk dalam maupun luar negeri. Belum lagi serbuan samyang korea milik opa-opa.

Terima kasih Indomie karena telah mengharumkan nama bangsa ini!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like