UVO SEMARANG: Persaudaraan Jalanan Penunggang Vespa

By

Sepeda motor jenis skuter ini juga punya sejarah panjang Indonesia terlibat serta dalam perdamaian dunia.

Adalah ketika negeri ini mengirimkan pasukan terbaiknya menjadi Pasukan Perdamaian ketika meletus konflik di Kongo. Penghargaan berupa Vespa diberikan pemerintah setempat untuk para pasukan Indonesia yang terlibat misi perdamaian di negara Afrika ini di era 60’an.

Seiring perjalanannya, sepeda motor bermesin kanan ini, tetap digandrungi manusia berbagai usia.

Vespa adalah simbol persaudaraan, tak peduli apapun latar belakang, bahkan negaranya. Sebab itulah terkenal jargon: Satu Vespa Sejuta Saudara.

Di Indonesia, para penunggang Vespa membentuk komunitas-komunitas. Salah satunya bernama Unnes Vespa Owners (UVO). Bermarkas di Semarang, mereka datang dari berbagai kalangan, tak hanya mahasiswa Unnes alias Universitas Negeri Semarang.

Persaudaraan dirajut di sana. Tamu dari berbagai wilayah di Indonesia pernah mampir singgah, bahkan pernah juga kedatangan tamu dari negeri Jiran Malaysia, sesama penunggang Vespa.

Ketua Umum UVO Semarang, Ari Eko Budianto, yang akrab disapa Ari Kinjenk, bercerita tamu dari Malaysia itu ada 2 orang pada tahun 2015.

Dia pribadi belum pernah kenal sebelumnya. Awal kontak ketika salah satu anggota UVO yang berdomisili di Kalimantan, memberi kabar akan ada tamu dari negara tetangga.

“Kami jemput di Pelabuhan Tanjung Emas, mereka naik kapal. Kami bawa ke sekre (sekretariat), untuk mampir transit. Karena mereka akan melanjutkan perjalanan ke Malang, acara di sana,” kata Ari ketika berbincang dengan tim ruangobrol.id akhir pekan lalu di Semarang

Tentunya kedatangan mereka, meskipun sebelumnya belum pernah kenal, disambut dengan antusias. Jamuan walaupun semampunya tetaplah diberikan kepada saudara baru mereka itu. Hangat dalam keakraban meski baru kenal.

Kebiasaan seperti itu, dikatakan Ari, jadi semacam tradisi anak-anak Vespa. Sama seperti yang ada di komunitas UVO Semarang.

“Karena anak Vespa ‘hidup di jalanan’ sering dolan-dolan, touring ke mana-mana, nah itu kita bisa dapat saudara di setiap kota, di setiap transit. Karena Vespa, kita naik Vespa,” tambahnya.

Seperti pengalaman bersama teman-temannya ketika perjalanan luar kota, seperti dari Semarang ke Tegal, ke Purwokerto, Wonosobo atau ketika ke Madiun.

Belum sampai tujuan, Vespa yang tumpanginya mogok. Bingung karena tak bawa bekal kunci-kunci untuk memperbaiki mesin, mereka akhirnya menghubungi salah satu kenalan sesama komunitas Vespa setempat. Meminta tolong.

Tak berapa lama, ada yang menghampiri. Menanyakan apa masalahnya, dan siap menolong. Vespa mogok itu dibawa ke sekretariat di kota setempat, untuk dibetulkan. Mereka juga dijamu luar biasa mulai untuk menginap hingga urusan makan minum. Semua tuan rumah yang tanggung.

“Saat itu yang datang bukan orang yang saya kontak, apa itu suruhannya (yang saya kontak) atau siapa saya nggak tahu. Ternyata mereka sangat senang kedatangan tamu, walaupun tamunya tak diundang dan merepotkan, karena mogok tadi hahaha,” sambungnya.

Seperti itulah Ari dan teman-temannya meyakini, bahwa hidup harus berbuat baik kepada siapa saja. Harus saling menolong, menyebarkan kebaikan. Berbagai kegiatan bakti sosial juga dilakukan UVO, semisal ketika Ramadan membagikan takjil gratis dan berbuka puasa bersama.

“Itu nggak memandang, apa klubnya, jenisnya, semua saudara,” ungkap Ari.

Untuk jadi anggota UVO Semarang, sebut Ari, sangat mudah. Tinggal datang ke rumahnya yang merangkap jadi sekretariat, di Jalan Bukit Sari IV nomor 5,  RT1/RW5, Muntal, Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Anggotanya saat ini berangkat dari para mahasiswa berbagai jurusan di Unnes.

Berlatih Sabar

Menunggang Vespa juga punya manfaat sendiri, setidaknya bagi Ari. Menceritakan pengalaman pribadinya.

Bapak satu anak ini mengatakan dirinya belajar sabar ya saat naik Vespa. Sebab menaiki kendaraan ini harus pelan-pelan, tidak bisa Vespa kemudian digeber terus menerus.

Itu juga ketika pengalamannya saat menempuh jarak jauh ratusan kilometer ataupun hanya beberapa kilometer saja. Ketika grusagrusu, buru-buru di jalan, ngebut, ternyata tunggangannya mogok.

“Maklum kan nafas tua (Vespa mesin tua), sehingga harus sabar,” lanjut mahasiswa Pasca Sarjana Unnes itu.

Kendaraan yang ditumpangi itu memang tak bisa dibilang muda. Beberapa yang mereka naiki, termasuk di komunitas UVO Semarang sendiri, rata-rata adalah Vespa produksi tahun 60’an hingga 80’an. Sehingga untuk mengendarai dan merawatnya perlu kesabaran ekstra.

Variannya, seperti; Vespa Super 60’an, 70’an Sprint, PX, Vespa Bajaj, maupun Vespa Super. Kebanyakan untuk keperluan servis maupun sparepart mengandalkan jaringan pertemanan.

Ari tak menampik masih ada stigma tak bagus yang melekat di anak-anak Vespa. Seperti; kerap membahayakan keselamatan di jalan karena tak safety, memeras, atau stigma buruk lainnya.

Itu juga yang berusaha ditepisnya bersama UVO Semarang. Tak frontal, tapi dilakukan dengan memberi contoh. Misal; ketika jalan jauh yang pertama dilakukan adalah memastikan keselamatan diri dan rombongan, dengan cara memastikan Vespa dalam kondisi baik, pakai helm, dan ketika misalnya butuh bantuan di jalan, sebisa mungkin pertama kali yang dihubungi anggota internal mereka.

“Jadi sebisa mungkin, kita saja yang direpotkan,” katanya.

Keluarga Besar

UVO awalnya dibentuk pada tahun 2000, Ari sendiri yang masuk ke Semarang tahun 2004 ketika kuliah di Strata 1 Seni Rupa Unnes, bergabung tak lama kemudian.

Jumlah anggota lama yang masih kumpul bareng pasang surut, termasuk juga cukup susah mendapat anggota baru. Beberapa faktor yang memengaruhi, di antaranya; makin jarang orang yang pakai Vespa, juga karena rata-rata anggotanya perantau dari luar kota.

Jadi, misal ketika mereka masih berstatus mahasiswa, mereka gabung dan sering kumpul bareng. Tetapi saat lulus, banyak juga anggotanya yang memilih pulang kampung halaman ataupun pindah kota untuk keperluan bekerja.

Tapi walau demikian, sebisa mungkin mereka yang tersisa di Semarang tetap menghidupkan tatap muka. Seminggu sekali, setiap Kamis malam, mereka berkumpul di Kawasan Simpang 7 Unnes, Gunungpati, Kota Semarang.

Kebersamaan ketika berkumpul itu ternyata makin hangat. Sebab, kini yang kumpul tak hanya penunggang Vespanya saja. Melainkan beberapa juga mengajak anak istrinya. Ketika awalnya kumpul-kumpul sesama mahasiswa, sekarang yang sudah menikah, mengajak pula keluarganya. Jadi saling kenal.

Presiden UVO Semarang, Kang Adi, menyebut anggota UVO saat ini yang eksis sekira 15 orang. Kalau dari awal, sempat 25 anggota, 30 anggota, dan sekarang yang eksis ada 15 anggota. UVO dibentuk pada tahun 2000.

“Saya generasi kedua, yang pertama sudah balik kampung, saya yang tetap di sini, nguri-uri yang ada di sini. Untuk eksis harus komunikasi antarteman, ada medsos jadi makin mudah. Silaturahmi harus dijaga, kelihatannya sepele tapi itu sangat krusial. Kalau kita lupa sedikit saja, nanti nggak bisa ngopeni temen-temen, ya bubar sendiri. Kalau kita prinsipnya dari dulu seperti itu, mainlah ke tempat teman, minimal ke tempat kosnya,” tutupnya yang malam itu juga ikut hadir berkumpul.

 

FOTO EKA SETIAWAN

Anggota Komunitas Unnes Vespa Owners (UVO) Semarang berkumpul di Kawasan Simpang 7 Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (2/8/2018).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

13 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like