Trotoar, Aku Padamu

By

Malam itu, trotoar tampak sepi dari biasanya. Selepas jam 6 sore tukang basreng, cilok, telor gulung hingga batagor tak lagi terlihat di trotoar jalan kapten Muslihat, Bogor. Hanya tampak dua orang petugas kebersihan yang sedang menyapu dan tiga orang satuan polisi Pramong Praja (Satpol PP) yang memoto keadaan trotoar.

Tak lama kemudian, gerbang Bank Swasta itu dibuka oleh pak Satpam. Beberapa gerobak keluar setelahnya. Lah dia ngumpet.

“Ngapain pak?” tanya saya saat itu.

“Tadi satpol PP abis inspeksi mendadak” ujar tukang basreng langganan.

“Kok bapak tau? Kan mendadak.” Tanya saya lagi.

“Ya kan biasanya juga gitu neng, kalau mau laporan mereka nyuruh kita ngumpet dulu.”

Saya hanya tertawa, bisa ya seperti itu?

Keesokan harinya saya bertemu dengan Satpol PP yang siang hari tengah bersantai di bawah pohon rindang. Tak jauh dari dia berada, ada pengemis dan PKL duduk-duduk.

Sambil meneguk es kelapa, saya bertanya, “Pak, itu PKL gak apa-apa disitu?”.

Satpol PP itu menengok ke arah PKL yang saya maksud, ia menjawab santai “Biarin aja dulu, kasian cari nafkah.” Baiklaaaah.

Tak jauh dari tempat duduk saya meminum es kelapa, driver ojek online tengah menunggu orderan. Setelah tukang-tukangan, pengemis dan kini ojek online.

Waktu SD, Pak Guru bilang jalan kaki itu di Trotoar. Mungkin Pak Guru SD yang salah, toh sekarang rame trotoarnya. Eh eh, tapi bener juga kayanya Pak Guru. Kalau Jalan Raya buat kendaraan, trotoar buat siapa? Ya buat pejalan kaki donk!

Peraturan lalu lintas pasti bahas itu, jadi gak usah kita bahas disini. Tapi coba bayangkan kalau kita tidak melakukan apa-apa sesuai porsinya. Misalnya gelas untuk makan nasi padang dan piring untuk minum jus. Contoh lainnya misalnya, kalau stadion rugby dipakai main bola dan stadion bola dipakai main rugby. Lucu kali ya? Kenapa trotoar dipakai jualan justru gak lucu?

Trotoar memang bukan hal yang penting bagi sebagian orang. Namun akan jadi penting bagi mereka yang terbiasa untuk berjalan kaki. Jika Trotoar difungsikan dengan baik, maka bukan tidak mungkin pejalan kaki pun lebih banyak, tak perlu naik motor yang kalau macet naik ke trotoar. Toh berjalan kaki juga menyehatkan.

Negara-negara maju membiasakan warganya untuk berjalan kaki tanpa ojek. Saya menduga, angkot yang bisa stop dimana saja dan banyaknya pengguna motor, minimnya penggunaan trotoar untuk jalan kaki, makanya ibu-ibu gagal diet. Di Indonesia biasanya saya berjalan hanya 5 km per hari. Satu hari di Singapura, saya bisa berjalan kaki minimal 10 km per hari. Normalisasi trotoar sesungguhnya akan membantu diet dan mengurangi perut buncit Anda. Trotoar membantu program perampingan tubuh tanpa biaya gym dan aerobic. Keren kan?

Selain itu, kalau para ibu-ibu pengendara motor percaya akan program diet lewat trotoar, maka tidak akan ada lagi motor lampu sen kanan menyala, belok ke kiri. Maka dengan ini saya mendukung penggunaan trotoar sesuai fungsi agar nyaman digunakan. Merdeka!

Semua hal dibangun dengan fungsinya masing-masing. Jangan sampai kita membenarkan hal yang salah karena terbiasa melakukannya. Peraturan ada bukan untuk dilanggar tapi untuk kebaikan kita semua. Tuh kan jadi ceramah

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like