Tak Kenal Maka Ta’aruf

By

Pepatah tak kenal maka tak sayang cukup beken di masyarakat. Namun, kali ini banyak yang mencoba menggantinya dengan kalimat tak kenal maka ya, taaruf atau kenalan. 

Ya, memang benar. Kalau tidak kenal mengapa tak coba untuk berkenalan. Zaman semakin maju, mengajak kita untuk mempunyai banyak teman, apalagi kalau di dunia bisnis. Harus bisa punya banyak relasi, yang tadinya hanya tahu lewat seminar-seminar, lalu membuat sebuah grup chat, sampai berujung kopdar. Akhirnya terciptalah sebuah pertemanan baru. 

Inilah yang aku rasakan ketika Prasasti Production mengadakan Counter Violence Extremism (CVE) Communication Workshop di Park Hotel Jakarta, Maret 2018 lalu, untuk melatih beberapa ustazah dan ustaz dan juga beberapa mantan kombatan. 

Berkumpul, bercerita, berkolaborasi bersama, membuka mataku. Latar belakang mereka dan juga diriku ada yang sama ada yang berbeda. Tapi kami bisa kompak. Tawa, canda. Suka dan duka kami rasakan. Alhamdulillah hingga saat ini kami masih bersilaturahmi lewat sebuah grup chat di Whatsapp. 

Mungkin, bagi yang hanya melihat para mantan kombatan ini dari layar kaca, punya pandangan tersendiri terhadap mereka.  Dan kebanyakan pandangan tersebut cenderung buruk. Namanya, juga belum tahu dan kenalan, ya bakal seperti itu, hehehe.

Lagi-lagi, tak kenal, maka berkenalanlah. Takut? Seram? Loh, mengapa? say hallo saja belum.

Alhamdulillah, aku banyak mendapatkan teman baru. Dengan berkenalan, dilanjut ngobrol bareng, kita bisa jadi tahu satu sama lain.

Bagaimanakah mereka-mereka semua ini. Apa yang muncul di hati dan pikiran kita bisa berbeda 180 derajat. Kita enggak nyangka, ternyata mereka tidaklah seperti yang kita pikirkan sebelumnya.

Hal yang sama pernah dikatakan oleh salah seorang laki-laki di acara live talkshow di sebuah stasiun televisi swasta. Laki-laki ini pernah memiliki kasus.

Sewaktu itu sang presenter bertanya,”Bagaimana jika ada orang yang curiga, apabila nanti kembali ke masyarakat malah akan membawa dampak negatif karena sudah pernah berurusan dengan suatu kasus?,”

Dijawablah oleh pemuda ini: “Kenalan dululah. Biar tau, aku orangnya kayak gimana. Jangan diliat dari bekasnya, kalau kita dulu pernah bermasalah. Banyak orang yang bilang, jangan menilai seseorang dari luarnya. Ya, kenyataannya masih banyak yang kayak gitu,”

“Kamu jangan menutup diri..!”. “Kamu coba, bergaul dengan masyarakat”.

Yap! Lagi-lagi,dan lagi. Aku harus membuka diri seperti apa? Aku bermain, ngobrol, jalan-jalan bareng tetangga, orang baru, dan berbagai kegiatan lainnya.

Ternyata, bukan kami yang menutup diri, namun khalayak umum yang menjauh dari kami. Dan terkadang media sebagai salah satu provokator yang menjadikan masyarakat menjauhi aku dan orang-orang yang pernah punya masalah sepertiku. 

Sesungguhnya, jalinan pertemanan adalah kunci kehidupan.

Nah,mau PDKT dengan doi saja, butuh kenalan dulu kan? Jadi, kapan kalian akan berkenalan dan ngobrol  dengan kami?

Salam kenal dari Dhania, yang sering kalian bicarakan di media sosial, hehehe

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: