Menuntut Ilmu atau Dituntut Ilmu?

By

oleh Inggit Sugiharti

 

“Bundaaaa, PR akuuuu”, keluh seorang anak kepada ibunya sambil menangis. Tangisan itu nampak terjadi setiap hari karena ia baru pulang sekolah jam 2 siang, kemudian les privat dan mengerjakan PR di malam hari. Tak ada waktunya bagi anak kelas 2 SD itu untuk bermain. Sungguh, kejamnya dunia ia rasakan sedari kecil.

Keresahannya itu akan terus berlangsung hingga 11 tahun ke depan. Ia akan sedikit bisa menghela nafas ketika masuk perguruan tinggi, jika bukan perguruan tinggi favorit. Bagaimana jika dengan perguruan tinggi favorit? Bisa lebih sengsara hidupnya. Tanpa main petak umpet, tanpa hujan-hujanan bahkan tanpa kenal teman sebaya sekitar rumahnya. Hiburannya hanyalah gadget dan media sosial. Bosan sekali hidupmu nak.

Tuntutan ini anak-anak sekolah saat ini memang semakin berat dengan dalih meningkatkan kecerdasan dan kemampuan anak. Padahal mungkin ia tak menggunakan aljabar ketika membeli siomay atau tidak menggunakan fisika ketika mengendarai mobil ke sekolah. Baginya, sekolah adalah nilai, nilai, nilai untuk mendapatkan pekerjaan yang layak kelak.

Tuntutan dahsyat nan membosankan ini tak seberapa dengan anak-anak di Singapura. Mereka harus menguasai dua bahasa yaitu bahasa inggris dan bahasa mandarin selepas sekolah dasar. Bukan hanya sekedar bisa bicara, mereka juga menguasai idiom, peribahasa, grammar dan lain sebagainya. Murid-murid harus membaca bahan bacaan dari bahasa inggris. Persaingan di Indonesia cukuplah antar sekolah, tapi di Singapura, kalian harus bersaing se-negara. Persaingan macam apa ini?

Lalu adakah sistem belajar santai namun mendapatkan pendidikan terbaik dunia? Jawabannya ada, Finlandia. Sistemnya dimulai dengan bermain. Bagaimana bisa?

Timothy D. Walker menceritakannya dengan lengkap di buku “Teach in Finland”. Walker pernah mengajar di dua negara, Amerika dan Finlandia. Metodenya superrr beda. Amerika membiasakan murid dan guru merencanakan pembelajaran secara rinci. Hal ini ditujukan agar siswa terbiasa melakukan sebuah prosedur yang jelas dan perencanaan akan masa depan mereka. Sedangkan Finlandia membebaskan kegiatan murid dan guru pada awal pertemuan. Kelas akan diisi oleh cerita yang menyenangkan selama liburan musim panas dan perkenalan. Enak bener ya?

Perbedaan prosedur ini membuat pendidikan di Finlandia menjadi pendidikan nomor satu di Dunia. Murid terbiasa untuk mencari guru untuk belajar dan terpacu untuk menuntut ilmu tanpa paksaan. Pendidikan di Finlandia juga dikatakan sebagai pendidikan efektif dimana anak tidak perlu mempelajari apa yang tidak ia sukai dan ia akan memilih minatnya sendiri. Selain itu, guru akan menjadi teman bagi murid di Finlandia. Guru akan paham profesi dan langkah apa yang harus dicapai oleh murid tanpa ujian nasional.

 

*Inggit adalah Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan lulusan Darus Sunnah International Institute for Hadits Sciences.

 

Sumber gambar : https://ceritapelosokindonesia.wordpress.com%2F2013%2F04%2F12%2Fpendidikan-di-pulau-sebatik%2F&psig=AOvVaw3dJH_-IpWAXxwG_IBzw8wD&ust=1533182104131475

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: