Ada Cina di Sarapan Kita

By

 

Kalau mau diadakan lomba kuliner terpopuler, rasa-rasanya nasi goreng bisa jadi juaranya.

Siapa yang tak tahu nasi goreng? Lebih lanjut lagi, siapa yang tak pernah makan nasi goreng? Sepertinya menjadi mustahil kalau ada yang menjawab tidak tahu dan tidak pernah.

Nasi goreng memang terkenal seantero Nusantara, bahkan dunia. Kelezatannya bahkan konon menjadi yang nomor dua di dunia di bawah rendang ketika CNN Internasional mengadakan polling internet pada tahun 2011.

Di negara kita ini, nasi goreng sangat mudah dijumpai. Mulai dari kelas gerobak keliling, warung tenda pinggir jalan hingga kelas restoran.

Variannya juga banyak, mau nasi goreng babat, nasi goreng telur, nasi goreng ayam, nasi goreng kambing, nasi goreng seafood, nasi goreng petai, atau varian lainnya.

Cara memasaknya juga beragam, mulai dari digoreng dengan arang hingga gas melon 3 kiloan yang konon hanya untuk warga tidak mampu itu.

Semuanya hadir dalam kenikmatan dan kelezatan masing-masing. Sampai-sampai pesepakbola Inggris Rio Ferdinand hingga Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama kesengsem makanan ini.

Bahkan, aktris, komedian, seniman, penulis dan penyanyi Belanda kelahiran Surabaya pada tahun 1943 Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau dikenal dengan Tante Lien menuliskan lagu berjudul “Geef Mij Maar Nasi Goreng” (Berikan Aku Nasi Goreng) yang direkam pada tahun 1979.

Lagu itu menunjukkan hubungan kuliner antara Belanda dan Indonesia sekaligus bercerita tentang rindunya orang-orang keturunan Indo (Eurasia) yang menetap di Belanda terhadap masakan Indonesia.

Dia tak bisa kembali ke Indonesia setelah saat usia SMA pergi berlibur ke Belanda, sementara Bung Karno menerapkan kebijakan nasionalisasi yang salah satunya berimbas bisnis keluargnya disita Pemerintah Indonesia hingga terpaksa tinggal di Belanda.

Nah, setelah diakui kelezatannya hingga dirindukan orang-orang lintas benua ini, lantas dari mana muasal nasi goreng? Apakah ini adalah sebuah mukjizat yang tiba-tiba turun dari langit? Apakah resepnya berasal dari wangsit ketika bertahun-tahun semedi di goa? Ataukah tiba-tiba muncul hasil simsalabim si nenek moyang segala mantra itu?

Dari berbagai sumber yang saya baca, nasi goreng yang sekarang tersebar di Indonesia atau beberapa negara Asia Tenggara lainnya, konon awalnya dibawa perantau-perantau Tionghoa. Di mana menurut catatan sejarah, nasi sendiri adalah bagian penting dari masakan tradisional Tionghoa, dimulai sejak 4000 SM.

Perantau-perantau Tionghoa itu membawa serta kebiasannya ketika menetap di wilayah-wilayah tertentu. Kemudian berakulturasi dengan budaya setempat, mulai dari kebiasaan bumbu-bumbu dan cara menggoreng hingga terciptalah nasi goreng khas lokal.

Beberapa sumber lain juga menyebutkan, orang Tionghoa sangat bersyukur kalau bisa makan nasi. Hingga, kalau ada sisa, pantang untuk dibuang. Salah satu solusi agar tidak mubazir jadi temannya setan adalah nasi itu diolah lagi, terciptalah: nasi goreng.

Nah, meskipun jadi kebanggaan warga Indonesia karena kelezatannya, ternyata muasalnya dari Negeri Tirai Bambu sana.

Jadi nggak asiklah kalau sampai hari ini masih ada masyarakat kita yang gemar menyudutkan Cina, antiCina. Wong bisa jadi, ada “Cina” yang tersaji di menu sarapan kita, karena emaneman membuang nasi sisa.

 

 

FOTO EKA SETIAWAN

Nasi goreng gerobak dijajakan di salah satu sudut di Jalan Prof. Sudharto, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, sekitaran Kampus Universitas Diponegoro, Kamis (1/8/2018) malam.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: