VESPA GEMBEL: Baik dan Buruk Tak Melulu Soal Tampilan

By

 

Mereka tampil sebagai antitesis gaya hidup borjuis. Melalui segala rupa wujud dan tampilannya, berhasil mencuri perhatian sekelilingnya. Menegaskan, bergaya tak hanya monopoli kemewahan, seperti orang-orang pada umumnya. Kegembelan pun bisa jadi ajang untuk bergaya. Eksis di tengah jalanan yang kerap ‘dikuasai’ mobil ataupun motor-motor gede nan mewah.

Mari kita sambut dengan meriahhhh: Vespaaa Gembel!!!

Mereka cukup mudah diidentifikasi, terutama ketika melintas di jalanan. Beberapa juga menyebutnya sebagai Vespa Sampah. Sebab, tampilan modifikasinya adalah ekstrim yang paripurna. Lihat saja, bagaimana kendaraan itu disulap aneka rupa dengan ornamen tak lazim.

Sebut saja; penambahan jumlah ban hingga lebih dari 20 buah dalam sebuah motor, ditempeli berbagai perkakas bekas mulai dari kaleng rombeng, bekas botol air mineral, spanduk, barang pecah belah, karung bekas, hingga tengkorak berbagai hewan. Panjangnya pun kadang bikin geleng-geleng kepala, sampai-sampai harus digotong beramai-ramai saat berbelok.

Sepintas, tampilan mereka seperti sampah berjalan nan rongsokan. Pengendaranya pun tak kalah nggaya. Tubuh mereka dibalut sepatu boot belel ataupun sandal jepit, jaket jeans usang, hingga tampilan rambut yang juga gembel. Tunggangan dan si penunggangnya menyatu dalam kegembelan.

Mereka kerap memenuhi jalanan, mau ngebut atau pelan. Seperti terlihat sekira sepekan lalu, tepatnya pada 21 – 22 Juli 2018 di jalanan sekitaran Tembalang, Kota Semarang, sekitaran kawasan Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat itu ada gelar acara kumpul komunitas Vespa, bertajuk Java Extremist#4. Acaranya digelar di Lapangan Resimen Induk Kodam IV/Diponegoro, familiar disebut lapangan tembak. Lokasinya sebelah utara kawasan Kampus Undip Tembalang. Raungan motor bermesin kanan itu, siang dan malam, terus terdengar di sana. Melintas jalan.

Tak hanya dari Jawa, namun ada pula mereka yang dari luar Jawa ikut bergabung. Setidaknya dari bendera komunitas yang mereka bawa. Salah satunya terbaca, dari Lampung.

Menempuh ratusan kilometer jalanan untuk ajang kumpul-kumpul sesama penggemar Vespa. Sebenarnya, acara itu dikhususkan untuk Club Member Extrim, salah satu komunitas Vespa di tanah air. Komunitas yang lain boleh masuk, asalkan bukan yang sampah.

Tapi walaupun demikian, mereka-mereka ini, yang dimodifikasi laiknya rongsokan berjalan, tetap saja hadir. Sekali lagi, eksistensi bisa dimanifestasikan dalam bentuk apa saja.

Salah satu yang ikut dalam kegiatan itu, Ari Eko, sapaannya Ari Kinjenk. Dia mengamini, kegembelan patut juga dirayakan. Karena gembel juga bisa bergaya.

“Anak-anak Vespa Gembel atau Ekstrim, sekarang jadi lifestyle,” kata lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang ini.

Ari yang tergabung dalam Unnes Vespa Owners (UVO), menyebut mereka yang memilih gaya hidup seperti itu, ada pula yang notabene anak-anak mampu (secara ekonomi).

“Bahkan anak orang kaya, tapi lebih memilih seperti itu,” lanjut dia.

Walau terkesan urakan, nilai-nilai kebaikan harus tetap dijaga. Karena tampilan bukanlah ukuran baik buruknya seseorang. Seperti mereka-mereka yang memilih jalanan sebagai manifestasi eksistensi yang paripurna.

Di lokasi acara, ketika saya merapat ke sana. Ada panggung hiburan dangdutan, tentunya dengan pengeras suara. Sempat terdengar pengumuman dari panitia. Isinya, siapa yang merasa kehilangan handphone bisa menuju ke panitia. Artinya: ada yang menemukan handphone dan dengan jujur menyerahkannya kepada panitia untuk dicari siapa pemiliknya.

Raungan-raungan Vespa terus terdengar. Ada berangkat, ada pulang. Kembali ke rumahnya masing-masing, menyusuri jalanan yang kerap digunakan orang-orang beradu kencang.

MENCINTAI TUHAN DI JALANAN, spanduk putih dituliskan dengan tinta seadanya tampak terlihat di salah satu rombongan pulang.

 

FOTO-FOTO EKA SETIAWAN

Berbagai skuteris berkumpul di gelaran Java Extremist #4 yang digelar di Lapangan Resimen Induk Kodam IV/Diponegoro, Kota Semarang, pada 21-22 Juli 2018.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

four × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like