Ras Manusia

By

 

Setelah Piala Dunia 2018 selesai digelar di Rusia, ada hal yang tak kalah panas jadi sorotan dunia seputar sepak bola.

Adalah pengunduran diri Mezut Ozil gelandang tim nasional ‘Der Panzer’ Jerman dari tim nasional. Pemain bola berusia 29 tahun itu jadi bulan-bulanan fans Jerman sesaat setelah dikalahkan 0 – 2 dari Korea Selatan.

Jerman yang datang ke Rusia dengan predikat Juara Bertahan setelah pada 2014 angkat trofi membantai Brasil 7-1, ternyata tak mampu melaju ke babak 16 besar. Di putaran pertama, mereka tak lolos fase grup, kalah saing dengan Swedia dan Meksiko.

Ozil berang. Bukan sebab timnya tak lolos, tapi karena tindakan rasial suporter kepadanya. Kepada media, Ozil sempat memberikan statemen, bahwa saat menjuarai Piala Dunia dia dianggap orang Jerman, tapi sebaliknya ketika tak berhasil membawa kemenangan dia dianggap imigran. Ozil memang punya darah Turki, kedua orang tuanya lahir di Turki, rumah aslinya di Kota Devrek di Laut Hitam.

Apalagi Ozil sempat bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, berfoto bersama sembari membentangkan kaus Arsenal, tempat Ozil bermain untuk klub.

Foto yang diambil Mei lalu di sebuah acara amal di London, Inggris itu juga ternyata jadi sorotan tajam. Dinilai bernuansa politis. Keputusan Ozil berfoto dengan Erdogan tak disambut baik di Jerman, negara tempat kelahiran Ozil.

Meski ini langsung ditepis Ozil dengan mengatakan pekerjaannya murni sepak bola bukan politisi, berfoto bersama Erdogan yang juga akhirnya kembali memenangkan pemilihan Presiden, disebut Ozil karena menghormati asal-usulnya berasal dari keluarga keturunan Turki.

Menilik sejenak ke belakang, hubungan dua negara ini sempat memanas pada tahun sebelumnya. Ini soal Jerman yang dituding memberikan suaka kepada beberapa warga Turki yang lari ke Jerman setelah gagal melakukan upaya kudeta terhadap Erdogan. Turki juga menuding Jerman mendukung jaringan pemberontak Fethullah Gulen.

Di sisi lain, Jerman dan Turki sebenarnya juga punya sejarah bagaimana dua negara itu bersahabat erat.

Eugene Rogan dalam The Fall Of The Khilafah (2016:42), menyebut persahabatan Jerman – Utsmani relatif cukup dalam. Pada 1898, Kaiser Wilhelm II melakukan kunjungan kenegaraan ke Khilafah Utsmaniyah.

Saat itu Ustmani dalam posisi bahaya dari ancaman Rusia, dan menganggap Jerman adalah kandidat utama teman yang kuat.

Di sisi lain, saat kunjungan Kaiser, Turki memegang posisi strategis yang cukup penting bagi Jerman. Saat kunjungan itu, Inggris dan Rusia masih bersaing sengit untuk menguasai Asia Tengah yang dikenal dengan ‘Permainan Besar’.

 

Persahabatan dengan Sultan Utsmaniyah dilihat Kaiser akan membuat umat Islam di seluruh dunia lebih bersimpati kepadanya dibanding setiap kekuatan Eropa lain. Kemitraan ini juga yang menyebabkan dibangunnya jalur kereta api yang menghubungkan Berlin – Bagdad.

 

Memang untuk soal bintang lapangan hijau, Ozil bukan satu-satunya yang jadi korban rasial, tercatat ada beberapa nama beken, semisal Dani Alves (Brasil) juga sempat jadi korban.

 

April 2014, Dani Alves yang saat itu bermain untuk Barcelona menjalani laga melawan Villareal. Saat akan mengambil tendangan sudut, dia dilempar pisang oleh suporter. Namun, aksi itu dibalas dengan memungut, mengupas dan memakan pisang tersebut. Pascainsiden itu, Dani Alves sempat berujar “kita harus menanggapinya dengan humor”.

 

Membaca fenomena demi fenomena seperti itu, sepertinya tak bijak jika sampai hari ini masih terjadi insiden rasial. Sejarah juga mencatat, sikap rasis hanya menimbulkan kebencian dan konflik. Jadi atasnama apapun, sikap seperti itu tidak bisa dibenarkan.

Berjuang menghapus itu tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Asalkan ada kesadaran diri pada hakikatnya kita adalah sama, sama-sama manusia: ras manusia. Sudah itu saja, tidak perlu dibeda-bedakan atasnama apapun.

Revolusioner Afrika Selatan, Nelson Mandela dalam salah satu pesannya tentang kehidupan dan kesetaraan, mengatakan “Aku sangat benci diskriminasi ras dan segala bentuknya. Saya sudah memperjuangkannya selama hidup saya. Saya akan memperjuangkannya sekarang, dan akan melakukannya sampai akhir hayat”

 

Sumber gambar: http://redaksiindonesia.com/sites/default/files/styles/konten-750×500/public/field/image/racism%20say%20no.jpg?itok=J1yfmAGb

Leave a Comment

Your email address will not be published.

thirteen − 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like