Run Zohri Run

By

Rumah itu masih beralaskan tanah. Dindingnya hanya bilik bambu yang terdapat lubang-lubang kecil menembus cahaya matahari. Kayu tua menjadi tiang penyangga yang membuat rumah itu masih kokoh berdiri. Dipan di depan rumah juga menghiasi rumah sederhana itu. Satu-satunya rumah kayu diantara rumah lainnya yang ada disana. Siapa sangka, pemilik rumah itu adalah juara dunia?

Lalu Muhammad Zohri. Nama itu tiba-tiba viral di Indonesia karena insiden ‘bendera’. Insinden itu berawal dari kemenangannya yang tidak disambut bendera besar seperti negara lain. Sang juara dunia itu hanya tersenyum dan bertepuk tangan menyadari dirinya juara satu lari 100m di Finlandia.

Seorang wartawan asing kemudian memberinya bendera berwarna merah putih. Namun itu bukan bendera Indonesia, namun bendera Polandia yang sebenarnya berwarna putih-merah. Posisi bendera dibalik agar nampak seperti bendera merah putih.

Netizen sibuk mengecam pemerintah Indonesia yang tak menyiapkan bendera untuk Zohri. Kedutaan Besar Indonesia di Finlandia pun mengatakan bahwa sebenarnya bendera itu bendera Indonesia bukan Polandia yang selama ini santer beredar. Meskipun fakta di Kamera berkata lain, setidaknya bangsa ini telah abai dengan prestasi generasinya.

Ketua Umum PB PASI , Bob Hasan dalam wawancaranya dengan TV Swasta mengatakan bahwa ia dan timnya yang mencari atlet ke daerah. Selain itu, biaya untuk perjalanan atlet ke berbagai kejuaraan dunia adalah hasil dari penggalangan dana ke berbagai donor. Namun, pasca kemenangan Zohri, banyak instansi yang tiba-tiba ingin memberikan bantuan dalam bentuk rumah, uang, pekerjaan, penawaran sebagai aparat negara dan sebagainya. Apakah perlu viral untuk diperhatikan?

Mendali yang didapat Zohri di Finlandia bukanlah yang pertama. Bahkan Zohri dijadwalkan akan mewakili Indonesia di Asian Games mendatang. Seandainya insiden bendera itu tak terjadi, Zohri tak akan se-viral ini. Namanya tetap Zohri yang tak haus apresiasi.

Mungkin bukan hanya Zohri, tapi Atlet lain yang memiliki karir gemilang juga bisa jadi tak pernah dilirik sama sekali. Padahal prestasi olahraga negara ini bukan hanya bulutangkis dan sepakbola. Mereka adalah orang-orang yang mencintai negara ini bukan hanya teori namun melalui prestasi.

Banyak orang yang terlalu sibuk berkata dan berteori. Namun ia tak memiliki karya pasti. Sebaliknya, banyak generasi yang berprestasi namun tak pernah diapresiasi seperti Zohri. Apakah ia luntur karena tak pernah disanjung? Tentu tidak. Prestasi Zohri masih melambung meski tak diberi panggung.

Zohri mengajarkan kita untuk bisa mencintai Indonesia tanpa banyak bicara. Anak dari NTB itu memberi kita teguran bahwa kepuasan diri tak akan pudar hanya karena tak masuk tivi. Run Zohri Run!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: