Ada Cinta di Sepotong Lunpia  

By

 

Pada sepotong lunpia, ada cerita bagaimana orang-orang bisa hidup berdampingan dengan cinta. Perbedaan ras, suku, agama ataupun beda bahasa dan bangsa, bukanlah alasan untuk terpecah belah.

Malah sebaliknya, aneka perbedaan itu harus dimaknai sebagai kekayaan. Ajang saling mengenal untuk berkolaborasi menciptakan keindahan. Seperti lunpia, penganan khas Semarang itu adalah hasil akulturasi Tionghoa – Jawa.

Berbagai bahan, bumbu dan isi dari dua etnis berbeda, berpadu dalam sebuah cita rasa khas. Dinikmati sampai sekarang, dari berbagai kalangan dan latar belakang.

Generasi pertama dari penganan ini bermula ketika Tjoa Thay Joe seorang Tionghoa bujang, menikahi pribumi dari Semarang seorang penjual makanan bernama Mbok Wasi, pada tahun 1870.

Mereka kemudian berpadu untuk membuat penganan itu lebih enak, menyesuaikan dengan kultur yang ada. Memodifikasi lunpia, isian awal termasuk dari babi, diganti dengan rebung (bambu muda), telur, daging hingga udang. Dari segi bahasa, lunpia berasal dari bahasa Hokkian, lun artinya lunak dan pia artinya kue.

Penganan itulah yang akhirnya lintas generasi hingga sekarang bisa dinikmati. Varian rasa dan isian juga makin banyak. Semakin menggugah selera banyak orang.

Generasi kelima dari pasangan Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi ini bernama Meilani Sugiarto alias Cik Me Me. Dia sekarang membuka gerai Lunpia Delight di Jalan Gajahmada, Kota Semarang.

Pada suatu wawancara di Semarang, disebutkan generasi pertama itu adalah engkong dan nenek buyutnya.

“Tahun 1997, bantu saya masih ingat betul bantu Papa jualan lunpia. Ikut dorong gerobak di Jalan Mataram Semarang,” kata Me Me.

Di tangannya, Lunpia Semarang makin variatif. Inovasi menu dan cita rasa dilakukan agar lunpia mampu menyesuaikan selera masyarakat luas tanpa harus mengubah bahan dasar rebung bambu pilihan.

Varian isian lunpia ini beragam, seperti; daging ikan kakap, kepiting hingga daging kambing. Salah satu ciri khasnya adalah rasa gurih beradu dengan manisnya saus. Untuk menemukan makanan ini di Kota Semarang, tidaklah sulit, tersebar di berbagai penjuru, di antaranya; di kawasan oleh-oleh khas Semarang di Jalan Pandanaran ataupun di Kawasan Pecinan Semarang.

Saat ini, Lunpia Semarang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nasional Tak Benda termasuk oleh UNESCO. Berawal dari cinta orang Tionghoa dan Jawa dalam sepotong lunpia, penganan simbol akulturasi budaya itu terus melintas batas hingga sekarang.

 

 

Sumber foto:

https://d15hng3vemx011.cloudfront.net/attachment/86346759641495701666

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like