Pantura Selalu Istimewa

By

 

Ketika mendengar pantai utara (pantura), memori kita mungkin akan terbawa ke bayangan sebuah wilayah yang panas, kehidupan keras dan segala cerita tentang jalanan plus dangdutan. Orang-orang yang lahir di sana, akan sangat akrab dengan semuanya itu.

Jalanan, ya jalanan, untuk yang terakhir ini, sepertinya pantura dan jalanan adalah satu helaan nafas. Ketika menyebut jalan, yang paling akrab ya pantura. Jalanan di sana menyediakan berbagai falsafah hidup; ada kendaraan yang paling kecil macam sepeda onthel hingga yang paling besar seperti truk-truk tronton beradu nasib di sana.

Secara histori, jalan ini terkenal pula dengan sebutan Jalan Raya Pos ataupun Jalan Daendles. Daendles ini adalah salah satu Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat masa kolonial alias penjajahan. Pada abad ke-18, Mas Daendles itulah yang memprakarsasi pembangunan jalan raya membentang dari ujung barat Jawa di Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten sampai ujung timur Jawa yakni Panarukan, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.

Jalur yang total panjangnya 1000 km itu konon dibangun memakan tumbal ribuan orang-orang pribumi yang dipekerjakan secara tak manusiawi oleh Pemerintah Kolonial. Jalur itulah yang sekarang terkenal dengan nama pantura.

Tiap harinya, selama 24 jam penuh, ruas jalan ini tak pernah sepi aktivitas manusia. Makanya, kalau menderita insomnia, bisalah dicoba jalan-jalan ke pantura hehehe. Wisata gratis, sekaligus ajang mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.

Lho kok? Coba saja melintas di sana; bus-bus dengan semangat kejar setoran siap menyalip dengan kondisi apapun. Mulai dari; ngeblong (nyalip lawan arah memakai jalur lawan), hingga adu cepat mengambil calon penumpang yang kerap menyetop bus seenaknya di pinggir jalan.

Seakan tak mau kalah, sopir pun bisa berhenti kapan saja. Alhasil, kendaraan yang di belakangnya pasti akan kaget. Atau lebih beruntung lagi jika merasakan disalip truk tronton yang muatannya kosong. Sudah ukurannya segede itu, masih ditambah ngebut disusul bunyi glondangan.

Hal-hal itu adalah satu dari sedikit contoh dari kolaborasi menebar ketakutan sekaligus ajang panggung manusia yang kerap saling salip karena egonya. Mengabaikan nasib sekelilingnya.

Kolaborasi kecepatan, ketakutan dan keselamatan yang dinomorduakan itulah yang menyebabkan: kalau nggak misuh ya jadi mendadak religius dengan mengucap; astaghfirullah ataupun pekikan takbir (tanpa mengepalkan tangan), yang biasanya disusul pisuhan juga. Sungguh perpaduan religiositas dan ‘kearifan lokal’ yang hakiki.

Ngomong-ngomong soal jalan pantura, di sana juga tersedia berbagai cerita-cerita mistisisme yang berkembang dan disebarluaskan lewat dongeng-dongeng di prapatan komplek, tempat – tempat mangkal sopir truk ataupun kisah yang diceritakan turun – temurun.

Tak percaya? dulu, waktu saya kecil di jalan pantura Kota Tegal, yang paling membikin semangat untuk bangun pagi adalah pantura. Ya pantura! Karena pagi-pagi betul, di saat matahari masih malu-malu untuk nampak, saya kerap diajak mbah untuk jalan-jalan di pantura. Lokasi favoritnya adalah Jembatan Kali Gung, kalau orang-orang di pantura Tegal akrab dengan sebutan brug Ketiwon.

Jadi semangat karena apa? yapp benar, karena duit. Kecil-kecil bisa cari duit? iya dong. Karena di pantura sana, kalau truk-truk melintas jembatan (apalagi yang dianggap angker karena sering terjadi kecelakaan ataupun angker karena terbawa cerita turun-temurun), si sopir akan membunyikan klakson sekaligus melemparkan uang recehan ke jalanan.

Katanya sih, sebagai semacam nyuwun sewu ikut melintas di sana. Membunyikan klakson dan melempar recehan adalah perpaduan tolak bala ala jalanan. Mitosnya seperti itu.

Recehan yang dilemparkan variatif; mulai dari pecahan Rp5, Rp25, Rp50 sampai paling besar Rp100. Pada masa 90’an, pagi-pagi dapat uang recehan sebesar itu adalah sebuah kebahagiaan.

Recehan itulah yang membuat saya ini, termasuk beberapa sebaya saya, sangat senang ketika pagi-pagi jalan-jalan di pantura. Mirip dengan petuah; pagi adalah waktu yang tepat menjemput rejeki. Hahahaha.

Makanya, pantang bagi saya ketika itu tidur setelah subuh. Kalau molor, bisa-bisa tidak kebagian recehan di jalanan. Recehan itulah yang akhirnya kami belikan nasi bungkus, ketan ataupun kupat bongkok sebagai menu sarapan agar kuat menghadapi hari. Sungguh mulia hati para sopir truk.

Jalan pantura, yang kadang di sana sini berlubang ataupun ada aspal menggelembung karena beratnya beban muatan truk-truk, juga menyediakan berbagai falsafah hidup. Adalah; gambar – gambar plus tulisan di bak truk.

Mereka adalah semacam oase di padang pasir, penyejuk di teriknya jalanan sekaligus pembuat senyum (sekaligus mikir) ketika egosentris manusia-manusia di jalanan dalam aneka moda transportasi beradu.

Apa yang dilukis dan dituliskan di bak-bak truk itu jadi semacam petuah-petuah bijak ala jalanan. Sangat orisinil. Temanya beragam, dari perkara rumah tangga sampai dengan Yang Maha Kuasa.

Misalnya; bak truk dilukis gambar perempuan berhijab dengan senyum manis mengembang sedikit centil, tulisannya: OJO NGAKU AYU YEN DURUNG DUWE BOJO SUPIR. Tulisan lainnya di bak-bak truk itu misalnya: PUTUS CINTA SOAL BIASA PUTUS REM MATI KITA,  GARA-GARA SMS BOJOKU MINGGAT, DIBUANG SAYANG DIMADU PERANG atau BEKERJALAH SEPERTI TUYUL: GAK HARUS KELIHATAN, GAK BUTUH PUJIAN, GAK GILA JABATAN, GAK USAH CARI PERHATIAN TAPI HASILNYA JELAS,

Ada pula yang berisi petuah-petuah religi yang saya yakin tak kalah dengan ustaz-ustaz yang ketika ceramah beradu waktu dengan durasi. Lihat saja tulisan di bak truk semacam: NGEBUT ADALAH IBADAH SEMAKIN NGEBUT SEMAKIN DEKAT DENGAN TUHAN, BAHAGIA ITU SEDERHANA: ISTIGHFAR UNTUK MASA LALU, BERSYUKUR UNTUK HARI INI, BERDOA UNTUK MASA DEPAN.

Sekali lagi, sungguh mulia para sopir truk ini. Berceramah tanpa durasi, medan dakwahnya adalah jalanan. Ratusan bahkan ribuan kilometer menyusuri jalanan membawa pesan-pesan moral. Gratis lagi! Pantura selalu istimewa.

 

FOTO EKA SETIAWAN

Anak-anak bermain bola di tepi Jalan Pantura Pemalang, Jawa Tengah. Foto diambil pada 13 April 2018.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

18 + 18 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like