Pemakaman Tanpa Isak Tangis

By

 Tahun 2013 silam bulan September, ketika saya masih bekerja sebagai pewarta berita di Kota Semarang, saya menjumpai hal yang tak lazim saat prosesi pemakaman di  tempat pemakaman umum (TPU) Kedungmundu di Kecamatan Tembalang.

Tak lazim, setidaknya menurut saya, karena nisan itu hanya dinamai Mr X1 dan Mr X2. Prosesi berlangsung cepat, tanpa isak tangis, tanpa iring-iringan pelayat yang biasanya ramai-ramai memakai baju warna gelap.  Saat itu, yang ada di pemakaman hanya beberapa wartawan, polisi dan tukang gali kubur saja.

Saat jenazah pertama dimasukkan liang lahat, seorang penyidik bernama Wazir A Malik, dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, memimpin doa.

Di depan liang lahat yang sudah ditimbun tanah, sembari duduk, Pak Wazir ini memulai prosesi doa-doa. Yang Pak Wazir katakan membuat saya tertarik mendekati.

Wahai hamba, saya tidak tahu nama anda

Yang menjadi korban pembunuhan

Sekarang, kamu wahai mister, fulan atau hamba yang saya tidak tahu namanya

Hari ini berpindah dari alam dunia ke alam kubur

Dan sebentar lagi akan ditemui oleh Malaikat Munkar dan Nakir

Katakanlah dengan tegas, Tuhanmu itu Allah SWT

Pak Wazir, yang juga Ketua Yayasan Al Hadi, Giri Kusumo, Mranggen, Demak, sejurus kemudian kembali mengalunkan doa-doa. Kami, para pewarta yang ada di belakangnya, duduk takzim, mengamini tiap doa.

Begitupun ketika prosesi perkuburan mayat yang kedua. Kurang lebih ritualnya hampir sama. Yang berbeda hanya tulisan print out yang ditempel disebuah batang kayu. Tulisannya hanya: Mayat 1 dan Mayat 2.

Mr X1 dan Mr X2 yang saat itu dikuburkan, sebelumnya ditemukan polisi di sekitaran rumah milik M, di sebuah dusun di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, pada 27 Juli 2013

M ini adalah tersangka penipuan modus penggandaan uang dan pembunuhan. M saat digelandang polisi di dekat rumahnya, nekat terjun ke jurang, seorang polisi juga jadi korban, ikut masuk jurang ditarik si M ini. Keduanya meninggal.

Nah saat pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) termasuk sekitaran rumah M itulah ditemukan beberapa jenazah yang dikubur diduga kuat korban pembunuhan M.

Beberapa jenazah itu diangkat dari kuburan, ada yang teridentifikasi, ada yang tidak. Dua yang tidak teridentifikasi itulah yang akhirnya dimakamkan di TPU Kedungmundu Tembalang Semarang itu, sehingga hanya dinamai Mr X1 dan Mr X2. Pemeriksaan petugas, keduanya berkelamin laki-laki.

Sebetulnya polisi sempat mengumumkan kepada khalayak, termasuk via pemberitaan media. Sempat ada beberapa orang yang mengaku kehilangan anggota keluarganya, datang melaporkan diri. Tapi setelah dicek dengan mayat itu, tidak identik.

Karena berbagai pertimbangan, akhirnya dua mayat itu dikuburkan. Setelah sempat disimpan dalam freezer rumah sakit. Makam antara Mr. X1 dan Mr. X2 berjarak sekira 5 meter, berjejal di antara makam – makam lain. Mr. X1 adalah korban laki – laki dengan usia kisaran 35 – 40 tahun bertinggi badan sekira 160 cm. sementara Mr X2, umur kisaran 40 – 50 tahun dengan tinggi badan 147 – 155 cm.

Mayoritas

Di pemakaman, saat itu, saya tak habis pikir kenapa prosesi perkuburan dilakukan dengan cara Islam. Akhirnya saya tanyakan itu kepada Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Musyafak, yang saat itu memimpin penguburan jenazah.

“Pertimbangannya karena mayoritas agama yang dianut di Indonesia. Kami tetap manusiakan si korban. Prosesi dijalankan semestinya, mulai dimandikan, dikafani, disalatkan hingga doa – doa ini,” kata Musyafak saat itu di lokasi perkuburan.

Walau jenazah sudah dikubur, data sudah diambil termasuk dilakukan tes DNA. Nah nantinya kalau ada yang datang melapor kehilangan anggota keluarga, dan ketika dicek ternyata cocok DNA-nya maka itulah identitasnya. Bisa dilakukan bongkar makam, atau nisan diganti dengan identitas yang sudah terungkap, semua tergantung permintaan anggota keluarganya.

Secara terpisah, ahli forensik Polri, AKBP Dr. Sumy Hastry Purwanti,dr.,DFM. Sp.F, menerangkan proses identifikasi jenazah sudah ada tahapan-tahapannya. Ada hal yang kira-kira dipegang teguh; lebih baik tidak teridentifikasi daripada salah mengidentifikasi.

Bagi dia, bisa menyerahkan jenazah kepada keluarganya secara benar, memberikan kepuasan tersendiri. Sebab, salah satunya, hal itu bisa membuat si jenazah bisa diurus sebagaimana mestinya, khususnya terkait kepercayaan si mendiang semasa hidup.

Jangan sampai jenazah berkepercayaan A lalu diurus dengan kepercayaan B, itu jika salah mengidentifikasi,” kata Hastry saat berbincang dengan saya di Kota Semarang, Ramadan kemarin.

Menurut dia, tantangan terbesar dunia forensik saat ini adalah mempercepat uji forensik untuk secepatnya menentukan identitas korban. Karena ini adalah pekerjaan tentang berburu waktu kematian. Semakin lama korban ditemukan dan ditangani, akan semakin sulit mengungkap identitas korban.

Uji DNA memang bisa dilakukan untuk proses ini. Tapi, uji DNA memakan waktu yang lama, bahkan bisa berbulan-bulan. Sementara, pihak keluarga ingin menguburkan secepatnya dan tentu saja mereka tak menghendaki jenazah yang diterimanya salah.

Jadi, apapun kondisi jenazah, baik berupa belulang, potongan tubuh bahkan serpihan, harus sekeras mungkin dilakukan identifikasi. Berjuang untuk mencari tahu identitas si mendiang.

 

FOTO EKA SETIAWAN

Salah satu proses pemakaman jenazah yang tidak teridentifikasi. Foto diambil di tempat pemakaman umum (TPU) Kedungmundu, Kota Semarang, pada 18 September 2013.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like