Menilik Ledakan Bom di Pasuruan

By

Gemerisik suara dedaunan yang tersapu oleh semilir angin mencipta irama khas di pagi nan syahdu. Dalam kesunyian kehidupan desa, sayup-sayup terdengar suara burung-burung yang bertengger di atas dedaunan  pohon rindang. Kehidupan masyarakat yang larut dalam kesahajaan, kian menambah kesan akan indahnya nuansa desa.

Begitulah kondisi Bangil, Pasuruan, sebuah wilayah di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Pasuruan sendiri terletak 60 km sebelah tenggara Surabaya dan berada di jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali yang menjadikannya sebagai kota dengan prospek ekonomi yang besar di kawasan Indonesia bagian timur Jawa.

Namun siapa sangka, pagi itu, Kamis, 5 Juli 2018, pukul 11.30 WIB, dalam nuansa damai khas desa, masyarakat justru dikejutkan oleh suara ledakan keras yang memekakkan telinga. Membangunkan penduduk yang selama ini hidup dalam damai nun jauh dari hiruk pikuk kota. Tak berselang lama, asap tebal berwarna putih membumbung tinggi di atas salah satu rumah warga.

Ledakan itu sendiri terjadi di sebuah rumah kontrakan yang terletak di Lingkungan Pogar, Jl. Pepaya, RT. 01/ RW. 01, Kel. Pogar, Kec. Bangil, Kab. Pasuruan.

Diantara kepulan asap putih nan tebal, tiba-tiba muncul sesosok lelaki yang mencoba menghalau sembari mengancam warga agar tidak mendekat ke tempat perkara. Di saat bersamaan, terdengar beberapa ledakan susulan dalam rumah yang sama. Sontak saja, hal ini membuat warga yang berada di lokasi kejadian lari berhamburan menyelamatkan diri. Dan tanpa ada satupun berani mendekat pada laki-laki yang sempat mengancam hendak melempar bom sebelum akhirnya ia melarikan diri menggunakan sepeda motor sambil menenteng ransel miliknya.

Dalam ketakutan dan kebingungan warga, rupanya mereka kembali dikejutkan dengan munculnya sesosok perempuan berpakaian hitam dan bercadar keluar diantara kepulan asap sambil membopong seorang anak kecil berwajah gosong dan tak berdaya.

Tanpa banyak bertanya, salah satu warga kemudian membawa anak tersebut dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat dengan kendaraan apa adanya. “Yang penting sang anak selamat,” pikir warga.

Perempuan dan anak kecil tersebut diketahui belakangan sebagai istri dan anak dari pelaku yang sebelumnya telah melarikan diri.

Peristiwa ledakan bom tersebut dengan cepat menyebar bahkan menjadi berita trending di berbagai media seketika itu.

Maklum, di saat tanah pekuburan para korban bom di Surabaya masih basah, saat genangan air mata para keluarga korban perlahan mulai mengering, dan saat luka yang tersayat oleh aksi biadab para teroris kian membaik. Justru, kini dikejutkan kembali oleh ledakan bom di Pasuruan, salah satu kabupaten di Jawa Timur yang dikenal dengan ratusan pondok pesantrennya.

Diketahui, laki-laki yang sempat mengancam akan melempar warga dengan bom adalah Anwardi alias Ahmad Abdul Rabani alias Abu Ali alias Abdullah alias Abdullah Anwar (47). Pria kelahiran Jakarta, 12 Juni 1969 itu diketahui juga sebagai pemilik bom yang meledak di rumah kontrakannya di Jalan Pepaya, RT. 01/RW. 01, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Yang lebih mengejutkannya adalah, laki-laki yang diketahui sebagai pemilik bom di Pasuruan tersebut adalah seorang mantan narapidana kasus terorisme yang bebas pada 2015 lalu.

Dikutip dari media Berita Satu (Sabtu, 7 Juli 2018 | 08:25 WIB), Pria bernama asli Anwardi tersebut pernah berusaha melakukan aksi serangan bom bunuh diri dengan menargetkan aparat kepolisian, namun gagal.

Bom rakitan yang tadinya hendak diledakkan di kantor kepolisian, meledak di depan Pasar Sumber Artha, ruas Jalan Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 30 September 2010, sekitar pukul 8.00 WIB. Bom di perbatasan Jakarta – Bekasi itu dibawa pelakunya dengan menggunakan sepeda. Namun beruntung, bom tersebut meledak karena terjatuh setelah sepeda menabrak pembatas jalan tanpa disengaja. Faktor human error. Polisi menyebut, pelaku adalah amatiran.

Bom itu meletup hanya beberapa meter tak jauh dari seorang anggota kepolisian yang sedang mengatur padatnya lalu lintas. Bahkan ledakannya, menurut saksi mata, terdengar keras dan mengagetkan warga, pengunjung pasar, serta anggota Polantas yang tengah mengatur lalu lintas. Tak ada korban jiwa dalam insiden itu, namun pelaku mengalami luka parah di bagian kepala dan patah tulang (Dikutip dari Viva.co.id, Jumat, 1 Oktober 2010 | 00:01 WIB).

Sementara itu, dalam insiden ledakan bom di Bangil, istri pelaku, Dina Rohana (37 tahun), sempat memberikan pengakuan yang mengejutkan. Pasalnya, bom yang diketahui berjenis bom ikan alias bondet tersebut, rencananya akan digunakan oleh Anwardi untuk mengacaukan Pilkada serentak 2018 lalu meski pada akhirnya tidak terlaksana.

Bom yang tidak sempat digunakan tersebut, lantas oleh Anwardi disimpan di dapur rumah sebelum akhirnya ditemukan oleh anaknya dan dibuat mainan. Bom tersebut lalu meledak dan mengenai anak tersebut.

Aksi terorisme yang melibatkan residivis ini tentu bukanlah hal pertama. Beberapa tahun yang lalu, pusat ibu kota juga pernah dihantam aksi teror yang menelan korban jiwa.

Nama Afif alias Sunakim, salah satu pelaku serangan di Thamrin, Jakarta pun mencuat ke publik dan menjadi perbincangan di berbagai linimasa. Pasalnya, Afif sebelumnya adalah seorang mantan narapidana dalam kasus serupa.

Saya, sebagai seorang warga negara, dan mungkin banyak masyarakat yang lain tentu bertanya-tanya, apa sih yang membuat orang seperti Anwardi dan Afif berani melakukan kembali aksi teror? Apakah penjara  tidak cukup membuat mereka jera?

Tentu ini menjadi catatan penting baik dalam kasus Anwardi maupun Afif alias Sunakim, bagaimana seorang mantan narapidana kasus terorisme bisa terlibat kembali dalam kasus serupa. Sementara di sisi lain, pemerintah juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama ini.

Tentu kita sadar, bahwa persoalan tentang kekerasan yang mengatasnamakan agama ini bukan saja menjadi beban bagi pemerintah. Tetapi, ini juga harus menjadi tanggung jawab bersama. Sebagai sebuah bangsa yang besar, tentu setiap elemen harus saling bergandeng tangan mengatasi setiap permasalahan yang ada. Dan terorisme, adalah salah satu dari persoalan bangsa yang mesti harus dibenahi secara bersama-sama.

Dan pendidikan, meski bukan faktor tunggal, namun menjadi salah satu kunci untuk membuka ruang diskusi, sebagai upaya untuk memutus mata rantai agar peristiwa serupa tidak lagi terjadi. Wallahu’alam…

 

Sumber foto : https://www.liputan6.com/news/read/3579629/kekuatan-ledak-benda-diduga-bom-di-bangil-pasuruan-low-explosive

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: