Menengok ‘Antek’ Jepang Pertama di Indonesia

By

Libur akhir pekan enaknya kemana ya? Bogor pasti macet! Bagi warga ibukota yang ingin berlibur ke Bogor, seringkali harus mengurungkan niat karena kemacetan kota hujan di hari libur, hampir menyamai Jakarta. Gimana liburnya kalau ketemu macet juga?

Ruangobrol bakal kasih rekomendasi tempat yang bisa kita kunjungi dan ini masih di Jakarta. Apalagi Jakarta lengang di hari libur. Tepatnya di Jalan Cikini IV, Cikini, Jakarta Pusat. Namanya Restoran Kikugawa.

Pecinta kuliner Jepang khususnya, wajib kesini. Restoran ini merupakan restoran Jepang pertama di Indonesia (lihat: Sushi ‘Antek’ Jepang Indonesia). Mr Kikuchi merupakan warga Jepang yang datang ke Indonesia saat masa penjajahan Jepang di Indonesia. Ia kemudian menikah dengan gadis Indonesia. Pada 1969, Kikuchi mendirikan Restoran Kikugawa.

Restoran Kikugawa bernuasa khas Jepang. Kita akan melewati jembatan kecil sebelum masuk ke restorannya. Suasana hening dan sunyi sampai untuk bersuara keras pasti malah bikin malu sendiri. Suara musik instrumental menemani pengunjung sepanjang berada disana. Ornamen dan boneka khas Jepang juga turut menghiasi restoran tersebut. Tirai Bambu dan kimono khas Jepang yang dipakai pramusaji melengkapi suasana yang mengajak kita ke negeri Sakura.

Restoran buka dalam dua waktu, makan siang dan makan malam. Untuk makan siang dibuka sejak 11.30 dan tutup jam 15.00. Kemudian restoran kembali buka jam 18.00 hingga jam 22.00.

Untuk harga? Gak perlu khawatir, harganya cukup terjangkau untuk menikmati makanan dengan rasa otentik Jepang. Harganya berkisar Rp 20.000 – Rp 150.000. Ada juga menu yang ditawarkan dalam satu set seperti Kiku Set dan Ume Set yang menjadi menu favorit. Keduanya menyajikan udon, salmon sashimi, tempura, sukiyaki dan yakitori. Perbedaannya, Ume Set menyajikan nasi sedangkan Kiku Set menyajikan Sushi.

Menu tradisional Jepang ini memang tak pernah luntur oleh waktu dan justru semakin menyebar ke seluruh dunia. Nasib menu tradisional Jepang memang diikuti oleh Nasi Padang yang juga menyebar keseluruh Dunia. Tapi sayangnya, baik sushi maupun nasi padang seringkali mengalami perubahan dengan menyesuaikan selera sekitar demi kebutuhan pasar. Rasa sambal padang dan rendang yang pedas tidak akan dapat ditemukan di luar negeri, begitupun rasa otentik sushi di beberapa negara sulit ditemukan di negara diaspora sushi. Kukigawa mempertahankan rasa khas Jepang meski tidak disenangi banyak kalangan. Kukigawa memberikan gambaran yang baik bahwa originalitas rasa bisa bertahan di negeri orang selama ia konsisten menjalaninya. Sejak dibuka, Kukigawa tidak pernah merubah rasa atau misalnya mengikuti trendi, sushi seblak atau misalnya udon mozarela. Ia pun tidak lantas merubah jam buka menjadi 24 Jam demi kebutuhan pasar.

Kukigawa mengajarkan bahwa pelopor tidak harus menjadi orang lain untuk bisa unggul, cukup jadi diri sendiri. Kukigawa percaya bahwa Legend Never Die? Aiiih ..

Ini dia hasil kunjungan tim ke kikugawa kemarin

https://youtu.be/T-yLbThjjXM

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: