Nining yang Tak Hilang

By

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan oleh pemberitaan mengenai kembalinya Nining. Nining memang bukanlah public figure atau pemain sinetron sehingga kembalinya ia menggemparkan media masa. Namun, Nining hilang setelah 1,5 tahun diberitakan tenggelam di Pelabuhan Ratu. Cerita tentang Ratu Pantai Selatan pun bertebaran bahwa dugaan paling kuat, Nining dibawa oleh penguasa samudera itu. Belum lagi pernyataan Nining yang masih lemas di media yang menyatakan, “Saya serasa dibawa ke dunia lain”. Tepat sudah dugaan netizen.

Dua hari setelah berita heboh itu, Polisi meruntuhkan skenario yang dibangun oleh Nining. Penonton harus kecewa bahwa itu bukan mistis yang mereka kira. Kehilangan Nining direncanakan dengan melibatkan keluarganya. Nining ternyata punya hutang yang tak mampu ia lunasi. Berita kehilangannya sengaja dibuat agar hutang senilai Rp 35 Juta dianggap selesai karena Nining dinyatakan meninggal dunia. Sutradaranya tak lain adalah Nining sendiri. Ia kemudian pergi ke rumah kerabatnya di Cianjur dan bekerja di Jakarta. Drama itu bisa mengelabui sejumlah orang selama 18 bulan. Berapa episode kalau dijadikan sinetron “Mencari Nining”?

Entah ide darimana drama ini. Namun Indonesia juga pernah dihebohkan oleh drama buatan seorang anak SMA Afi Nihaya Faradisa. Afi menulis di kolom facebooknya mengenai “Belas Kasih dalam Agama Kita”. Tulisan itu menggambarkan kekhawatirannya tentang kekerasan atas nama agama padahal segala sesuatunya sering diawali “basmallah” yang memuat “maha pengasih dan maha penyayang”. Tulisan tersebut dibagikan ribuan orang dan menjadi viral karena seorang anak SMA bisa menulis secemerlang itu mengenai indahnya perbedaan. Bahkan Afi tampil di beberapa TV Nasional dan media masa. Tidak tanggung-tanggung, Afi diundang Presiden ke Istana.

Seperti halnya Drama Nining, penonton juga harus kecewa ternyata tulisan Afi diketahui merupakan plagiarism. Tulisan “Belas Kasih dalam Agama Kita” di facebook Afi pada 25 Mei 2017 merupakan tulisan milik Mita Handayani setahun sebelumnya. Tiga tulisan lainnya juga hasil mencontek adalah “Media Sosial Bagai Warung Makan” pada 7 September 2016 dan diposting ulang pada 8 Juni 2017 yang sama persis dengan unggahan akun Lembaga Perlindungan Celebes 31 Desember 2016. Tulisan “Agama Facebook” pada 28 November 2016 juga sama persis seperti tulisan Ekoholic di blog-nya pada 24 Februari 2015. Terakhir, Puisi di buku Chicken Soup for Teenage Soul on Tough Stuff yang best seller juga dijiplak oleh Afi dengan judul sama “Pernahkah kau” pada Maret 2017. Tak lama, Afi kembali muncul di TV, menangis karena habis dihajar kata-kata netizen sebagai plagiarism. Ia meminta maaf dengan kata-kata, “Semua orang juga pernah melakukannya.” Kesalahannya itu tidak diakui segentle ia menulis ulang tanpa sumber. Untung kau tak nulis skripsi, de. Jika skripsi itu kau jiplak, habislah kau dibakar penguji.

Agar lebih menarik, ada satu contoh lagi. Indonesia dihebohkan oleh pengakuan seorang anak bangsa di Belanda yang mengaku sebagai Post-Doctoral dan Asisten Profesor di TU-Delft. Dwi Hartanto namanya. Dwi memulai klaim-nya dengan mengaku bahwa ia memenangkan sejumlah kompetisi kedirgantaraan internasional negara maju. Ia juga mengembangkan pesawat tempur generasi ke-6, katanya. Dwi lebih total dan bermodal untuk kebohongannya, ia memanipulasi template cek hadiah sebesar 15.000 euro, disertai namanya dan berfoto dengan cek tersebut. Kemudian ia publikasikan di Media sosial. Beberapa Media Masa nasional mencoba menghubunginya dan ia selalu berdalih “sibuk”. Hingga Juni 2017, ia mengakui bahwa apa yang ia klaim semuanya itu bohong. Ia memang merupakan mahasiswa doktor TU-Delft dan tidak pernah mengikuti kompetisi apapun. Pengakuan itu ia muat secara gentle di media sosialnya. Itu baru laki!.

Ketiga drama diatas memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Namun sejatinya, ada krisis ketidakjujuran di negara kita. Kebohongan publik seakan sah dan bisa dilakukan selama menguntungkan pribadi. Nining yang tak kuasa membayar hutang harus berbohong “mati” demi menghindari masalah tersebut. Afi dan Dwi menjadi contoh nyata pengambilan keuntungan dari kebohongan publik di Media Sosial. Padahal mereka tentu tahu pepatah “Sepandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga”. Sejagonya bohong, kalau emang bohong ya bakal ketahuan. Nining menghindari masalah ekonominya hingga harus menggunakan cerita mistis sebagai alibi. Afi malah mewajarkan kesalahan dengan bilang “Kalian juga pasti pernah melakukannya”, ya mungkin maksud Afi, kan kita semua juga pernah nyontek PR dari temen kan? Plagiat juga katanya. Dwi Hartanto ini lebih seperti bocah SD yang mengaku ini itu. Selayaknya bocah SD sering kali mengklaim bapaknya punya pesawat, bapaknya punya mobil 200 dan lain-lain hanya untuk membanggakan diri serta terlihat lebih hebat dibanding orang lain.

Permasalahan tentu tidak dapat diselesaikan dengan cara yang salah. Kebohongan justru membuat masalah itu semakin besar. Satu kebohongan akan membutuhkan banyak kebohongan untuk menutupinya. Kebohongan masih menjadi masalah mental yang belum terselesaikan di negara ini. Dari masyarakat bawah hingga penguasa menganggap kebohongan sebagai hal yang biasa. Banyaknya kasus korupsi menjadi buah dari krisis kejujuran itu.

Krisis ini juga didorong oleh kurangnya keinginan klarifikasi masyarakat. Bahkan presiden sampai mengundang orang yang ternyata memiliki karya hasil plagiarism. Pewarta berita sering kali mengambil berita yang menghebohkan demi rating. Namun ternyata ada kebohongan di belakangnya. Alamak.

Kebohongan bisa diantisipasi apabila masyarakat terbiasa melakukan klarifikasi terhadap berita ataupun kabar yang beredar. Seperti ituuu ~

Sumber gambar : https://m.suara.com/news/2018/07/02/194629/mistis-ini-kisah-nining-ditemukan-hidup-usai-15-tahun-tenggelam

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: