Ukhuwah Mancingiyah

By

 

“Mas, arep mancing nang ndi?,” tanyaku sekira dua pekan lalu ketika bertemu seorang pemancing lain di sebuah toko jual umpan pancing di Jalan Gombel Lama, Kota Semarang. Saat itu Sabtu pagi.

Dengan senyum, mas yang enggak aku kenal itu menjawab. “Aku arep mancing nang Sawah Besar, Mas. Lha jenengan arep mancing nang ndi?,” jawab mas-mas yang aku belum kenal namanya itu.

“Wah, aku arep mancing nang daerah Tapak, Mas,” timpalku.

Percakapan selanjutnya, kami terlibat percakapan cukup panjang sekira 10 menitan seputar dunia permancingan di Semarang. Dia sempat mengajakku, yang saat itu bersama seorang kawan satu kos untuk mancing bareng di daerah Sawah Besar, Kota Semarang. Di Kota Semarang sendiri, tempat pemancingan cukp beragam, mulai dari tambak air tawar, air payau, ataupun laut. Ikannya juga beragam. Tak perlulah disebutkan nama-nama ikannya, nanti susah kasih sepedanya hehehe.

Kembali ke dialog di toko umpan tadi, karena kami sudah sudah sepakat untuk mancing di daerah Tapak, Kota Semarang, ajakan itu dengan halus kami tolak. Alasannya, senar pancing yang aku pakai belum mumpuni untuk dipakai di tempat mancingnya. Sebab, dia sempat cerita kalau ikan di sana besar-besar. Ukuran 1 kilogram ke atas rata-rata.

Wah bisa-bisa enggak angkat ikan, tapi malah putus nyambung putus nyambung rangkaian pancing. Niat refreshing bisa bubar gara-gara pancing tidak mumpuni untuk strike.

Sejurus kemudian kami bertukar nomor ponsel untuk selanjutnya saling berbagi informasi tentang spot mancing yang yahud ataupun ajakan mancing bareng.

“Aku tapi nek mancing gur dino Minggu, Mas. Wayah prei. Ben dinane aku dodolan bakso,” ucap mas tadi sembari berpamitan berangkat mancing duluan.

Lumayan beli umpan dapat teman baru.

Aku sendiri memang hobi mancing, setidaknya dimulai sejak SD ketika hobi mencari ikan sepulang sekolah bersama kawan sepermainan.

Di percakapan spontan yang terjadi di toko umpan pancing itu, aku merasa akrab saja dengan suasana. Baik dengan penjual ataupun pemancing-pemancing lain yang secara kebetulan bertemu di satu titik untuk keperluan yang sama: membeli umpan.

Betul, kami tak saling kenal. Tapi piranti yang kami bawa, terutama joran yang kerap terlihat ditenteng lengkap dengan reel pancingnya, itulah yang mengakrabkan kami.

Sebab itu pula, timbul rasa senasib sepemancingan.

Karena, mancing itu diuji betul kesabarannya. Mulai dari spot yang ternyata tak bagus, ikan yang tak kunjung menyambar umpan, atau peristiwa-peristiwa tak lazim lainnya. Misal; bertahun tak pergi ke tempat pemancingan langganan, ketika sampai sana ternyata tambak sudah diuruk. Itu betul terjadi loh.

Ujian kesabaran para mancingers lainnya, bisa jadi toko pancing dan umpan langganan yang ternyata sudah tutup karena kena proyek pelebaran jalan Pantura, piranti rusak ketika mancing dan tak membawa ganti, atau ujian-ujian lainnya yang layak dikalkulasikan menjadi pahala yang besar ketika pemancing bisa melaluinya dengan sabar.

Nah, minimnya informasi seputar pemancingan inilah yang salah satu solusinya adalah: menambah teman sesama pemancing sebanyak-banyaknya. Karena kadang, Mbah Google tak cukup akurat memberikan informasi seputar spot mancing yang yahud. Apalagi memberi informasi toko- toko pancing mana saja yang kena gusur.

Tak hanya itu, saat menuju spot yang dituju, kami, sesama pemancing yang sebelumnya tak saling kenal, tiba-tiba bisa jadi sangat akrab mengobrol ngalor ngidul. Bisa ngobrol saat bertemu di pom bensin, di warung dekat lokasi mancing, atau bahkan di perlintasan sebidang kereta api ketika sama-sama berhenti menunggu si ular besi melintas.

Terkadang dari pertemuan-pertemuan itulah jalinan pertemanan terajut. Piranti pancing adalah simbol komunal sesama pehobi mancing.

Persaudaraan kami terjalin tak hanya bertukar informasi seputar permancingan. Tapi juga saling bantu ketika sampai di TKP mancing. Misal; yang sudah ahli membuat rangkaian pancing tak segan mengajari yang pemula, memberikan umpan cuma-cuma ke sesama pemancing lain, saling bantu mengambilkan joran ketika joran salah satu pemancing ikut nyemplung karena disambar ikan yang kelaparan, ataupun perbuatan-perbuatan terpuji lainnya.

“Ternyata, bisa jadi ukhuwah ya, Mas,” kata temanku yang boncengan motor bersamaku ketika makin dekat dengan lokasi mancing.

“Iyo, nambah teman ya. Ukhuwah mancingiyah,” jawabku sekenanya.

“Hahahaha. Betul, betul!,” dia tertawa.

Mari memancing. Asal jangan mancing perkara ya.

Strike kanan strike kiri

Sing narik ngati-ati

Yen ucul gawe gelo ati

 

Strike dalam strike depan

Sing mancing nganti edan

Yen ucul misuh rak karuan

… (Lagu Mars Mancing-bisa cari di YouTUbe)

#SalamSatuJoran.

 

 

FOTO EKA SETIAWAN

Para pemancing di Kawasan Marina Semarang. Foto diambil 2 Juni 2018.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like