MASJID MENARA SEMARANG: Tua Tapi Tak Usang

By

 

“Saya tua, tapi tak usang” begitu salah satu dialog yang diucapkan Arnold Schwarzenegger di film Terminator Genisys. Sama seperti di film-film Terminator sebelumnya, Arnold yang berperan sebagai robot harus susah payah melindungi Sarah Connor dan John Connor dari ancaman pembunuhan robot lain yang lebih canggih darinya.

Sang Terminator tahu betul, fisiknya sudah tak lagi muda. Tapi dengan segenap pengalaman dan perjuangan, dia yakin betul walaupun mesin tua tapi tetap saja berguna. Si mesin tua berhasil mengalahkan robot yang lebih canggih darinya, menyelesaikan misi memberikan perlindungan pada umat manusia.

Memang itu hanya cerita fiksi saja lewat serial film. Tapi ada pelajaran yang bisa dipetik dari tua yang tak usang itu. Selalu ada hal yang berguna jika kita mau belajar dari masa lalu (tua) itu.

Seperti ketika melihat sebuah masjid dan kelenteng yang sama-sama tua di Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Di wilayah yang panas dan sesekali rob jadi tamu rutin yang datang, dua bangunan itu berdiri megah sampai sekarang. Lokasinya berdekatan.

Satu adalah Masjid Menara, dan satunya dikenal dengan sebutan Kelenteng Kampung Melayu. Kawasan itu adalah jejak perdagangan di masa kolonial.

Adanya dua tempat beribadah beda agama yang lokasinya berdekatan itu juga jadi simbolisasi bahwa sejak zaman dulu, kerukunan antar umat beragama sudah terjalin. Kerukunan di tengah multikultural.

Untuk bangunan masjid itu dominasinya warna hijau. Memang tak jauh beda dari masjid-masjid lain pada umumnya. Hanya saja, ciri khasnya adalah menara yang menjulang tinggi menyerupai mercusuar.

Ternyata, ditilik dari historinya, asal muasal masjid itu memang dari menara mercusuar.

Oliver Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015; 230) menyebut, kata menara berasal dari bahasa Arab; ma artinya tempat dan nar artinya api. Artinya mercusuar.

Menara ini dibangun pada 1825 di Pelabuhan Semarang, tepian Kali Semarang, untuk memancarkan sinar isyarat pada malam hari untuk membantu navigasi kapal. Berfungsi hinga 1884 saat sebuah mercusuar baru dibangun sekira 1 km lebih utara dekat muara Kali Baru. Kemudian, mercusuar lama inilah dimanfaatkan sebagai masjid hingga sekarang.

Lokasi ini dulunya merupakan permukiman nelayan dan perdagangan. Gedung masjid sendiri mulai dibangun pada tahun 1802. Saat itu, masjid di Jawa belum dilengkapi menara. Umat Islam dipanggil untuk salat dengan suara bedug. Pendatang Arab pada abad ke-19 membawa tradisi mereka untuk meneriakkan suara azan dari atas menara.

Berkunjung ke sana, tentu saja hawa panas langsung menyengat. Maklum, salah satu khas wilayah pantai utara (pantura) memang demikian.

Awalnya masjid itu ada 2 lantai. Tapi karena kondisi tanah yang terus amblas, bangunan lantai 1 terus turun, hanya tersisa bangunan lantai 2. Itu digunakan untuk salat jamaah laki-laki. Sedangkan, untuk jamaah perempuan, mempunyai tempat tersendiri yang masih satu komplek dengan bangunan masjid.

Pencerita sejarah asal Semarang, Jongkie Tio, ketika ditemui beberapa waktu yang lalu mengatakan, sekira abad ke-18 kawasan tersebut adalah wilayah pelabuhan. Kali Semarang, yang lokasinya persis di belakang masjid, digunakan sebagai jalur transportasi penting komoditas dagang.

“Belanda memindahkan pusat perdagangan laut dari Jepara ke Semarang karena dipandang lebih potensial, sebab itulah kawasan ini ramai disinggahi orang-orang luar, dari Melayu, Tionghoa hingga Arab dalam hal ini pedagang-pedagang Yaman,” kata dia.

Kawasan kampung di sana juga familiar dengan sebutan Kampung Ndarat. Muasalnya, karena di sana sering digunakan untuk mendaratkan kapal-kapal pedagang, baik Melayu maupun Tionghoa. Sebab ini juga kawasan ini juga dikenal dengan sebutan Kampung Melayu.

Mengenai adanya Kelenteng Kampung Melayu yang lokasinya hanya selemparan batu dari masjid, Jongkie Tio berpendapat itu adalah salah satu kebiasaan etnis Tionghoa ketika mencapai daratan selepas berlayar.

“Mereka punya kebiasaan tiap singgah di daratan tujuan selepas pelayaran panjang, akan membangun kuil atau kelenteng, tak jauh dari pelabuhan tempat mereka masuk kawasan baru. Itu mereka gunakan sebagai sarana sembahyang, simbolisasi dari rasa syukur telah mencapai daratan dengan selamat,” tambahnya.

Sejarawan Universitas Diponegoro, Titiek Suliyati, menyebut hingga abad ke 18, Kampung Melayu itu merupakan wilayah multietnis. Walaupun demikian, masing-masing warganya dapat menjalankan kepentingan sosial, budaya bahkan keagamaan secara harmonis.

“Adanya Masjid Menara Layur dan Kelenteng Kampung Melayu itu adalah buktinya, jaraknya juga tak terlalu jauh. Ini simbolisasi pada masa itu masing-masing etnis bisa hidup berdampingan, saling menghormati,”  kata dia.

Menyimpan sejarahnya masing-masing, dua bangunan itu hingga kini masih berdiri gagah. Mereka bertahan di tengah ancaman penurunan muka tanah di sana. Jalan di depannya ditinggikan, membuat bangunan kanan kirinya makin tampak amblas.

Agaknya memang benar yang diungkapkan Cicero, seorang filsuf Romawi (106 – 43 SM), bahwa Historia Magistra Vitae : Sejarah adalah Guru Kehidupan.

 

FOTO EKA SETIAWAN

Masjid Menara di Jalan Layur Kota Semarang. Foto diambil pada April 2018.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

nineteen + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like