Euphoria Fatamorgana Piala Dunia

By

Banyak orang bergembira menyambut Piala Dunia ini. Tim dari berbagai negara di belahan dunia pergi ke Rusia. Rusia bahkan digadang-gadang sebagai tuan rumah paling mewah sepanjang sejarah. Sayangnya, Rusia tak bisa pamer kemewahan itu kepada musuh lamanya, Amerika Serikat yang tak masuk daftar negara peserta Piala Dunia. Meskipun cukup banyak antek AS yang turut nimbrung di kejuaraan empat tahun sekali ini.

Selain mengenai kemewahan event-nya, perjalanan turnamen Piala Dunia juga tak luput dari sorotan. Banyak hal yang bisa jadi headline menarik para pemburu berita. Portugal dan Argentina menjadi negara yang dijagokan banyak fans, justru harus pulang sebelum masuk perempat final. Padahal disana ada pemain terbaik Dunia seperti Lionel Messi dan CR7. Euphoria fans keduanya menjadi Fatamorgana yang tak nyata.

Moh Salah yang akhir-akhir ini menjadi icon islam di dunia Bola pun harus kecewa karena Mesir tak masuk per delapan final. Jerman pun harus tertinggal karena tak masuk enam belas besar. Fans Mesir memaki Ramos (pemain Spanyol) yang mencederai Salah ketika Real Madrid melawan Liverpool di Final Champions Eropa sebelumnya. Mereka lupa bahwa ada Italia dan Belanda yang tak masuk piala Dunia yang lebih hancur hatinya terlebih dahulu. Padahal Belanda masuk Final di Piala Dunia 2014. Dunia memang terlalu kejam bro.

Rusia punya daya pikat di Piala Dunia kali ini. Keberhasilan Rusia masuk perempat Final memang dipertanyakan. Namun, selain karena isu dukun, Rusia punya persiapan lebih matang dibanding negara lain. Ia lebih tahu medan pertempuran, ia lebih banyak pendukung sehingga secara mental mereka sudah siap. Persiapan fisik dan teori pemain Rusia mungkin tak sehebat Messi dan CR7, namun nampaknya itu bukanlah kunci utama. Namun mental menjadi pemantik permainan yang prima.

Persiapan mental memang sering diabaikan oleh banyak orang. Orang yang secara fisik dan teori baik, belum tentu secara mental juga baik. Secara nyata, fisik orang Indonesia seringkali dianggap remeh. Secara statistik, mungkin akademik orang Indonesia tak lebih baik dari negara tetangga. Namun faktanya, orang Indonesia banyak memenangi kompetisi dunia. Contoh lainnya yang sering kita temui adalah banyak lulusan terbaik dengan fisik sehat tak bisa bertahan di dunia pekerjaan karena mental yang tak siap.

Permasalahan kesiapan mental juga banyak terjadi pada Pekerja Migran Indonesia terutama pekerja domestik atau di Indonesia disebut Pembantu Rumah Tangga. Pergi keluar negeri hanya dibekali kesehatan secara fisik dan memenuhi syarat formal. Faktanya, 197 pekerja domestik di Singapura mengalami disharmoni dengan majikannya. Lebih dari 200 orang per tahun juga dipulangkan oleh PJTKI karena alasan yang sama. Mereka yang awalnya membayangkan pulang dengan membawa banyak uang untuk keluarga harus kecewa karena pergi dari rumah majikan akibat tidak diizinkan memegang handphone, makanan kurang layak dan bahkan alasan sepele seperti tidur tidak nyenyak.

Bagi pekerja migran yang telah lama tinggal di luar negeri seperti S misalnya. S telah menjadi pekerja migran di Singapura selama 15 tahun. S mengaku bahwa sejak awal ia tahu bahwa menjadi pekerja migran dalam bidang domestik memang tidak akan enak. Lima tahun pertama ia tidak diberi libur oleh majikannya. Ia awalnya mendapat sarapan hanya roti yang tidak cocok dengan lidah Indonesia yang terbiasa makan nasi. Makan siang dan makan malamnya harus di-jama’ karena permintaan majikan. Lima tahun selanjutnya ia mulai diperbolehkan libur sehari seminggu oleh majikannya. Ia diam-diam sejak saat itu menggunakan handphone. Setelah tahun kesepuluh, majikannya mulai melunak. S diberikan libur dan izin penggunaan handphone selama tidak mengganggu pekerjaan. Baginya, hubungan harmoni dan disharmoni antara pekerja dan majikan adalah masalah kesiapan mental. Ribuan pekerja migran lama bisa bertahan di Singapura karena mental yang kuat. Buah dari itu semua pun didapatkan, bagaimana S misalnya dapat menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi.

Kadang ada hal non fisik yang sering dianggap sepele namun sebenarnya penting. Euphoria awal karena menyepelekan ini akan sia-sia apabila tidak dipersiapkan dengan baik. Ya? Ya?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

two + twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like