Pak, Siapapun Boleh Menangis

By

Ada yang bergerak diantara reruntuhan. Darah bersimbah disekitarnya. Orang sekitar masih menebak apa yang bergerak disana. Kemudian terdengar suara lirih, “tolong.. tolong..”. Kepala itu mulai mengangkat perlahan. AKBP Roni Faisal berbisik, “bangun.. bangun..”. Tubuh kecil itu berusaha bangun. Baju dan kerudung kuning tipisnya penuh darah saudara dan orang tuanya. Ia mencoba berdiri sempoyongan. Tanpa pikir panjang, AKBP Roni Faisal mendekat dan menggendongnya menjauh dari lokasi.

Beberapa menit lalu, ledakan bom terjadi di pintu gerbang Mapolrestabes Surabaya. Ledakan tersebut berasal dari dua buah motor yang dikendarai satu keluarga. Naas, empat anggota keluarga tewas dan satu bocah kecil selamat dengan banyak luka di tubuhnya.

Secara Protap, tidak ada yang boleh mendekati sumber ledakan bahkan apabila ada yang masih hidup. Hal ini karena menghindari terjadi ledakan susulan yang akan membahayakan orang tersebut atau ia yang masih hidup membawa sisa-sisa bom.

Namun saat itu, AKBP Roni hanya peduli anak itu harus diselamatkan. Ia mendekati lokasi dan membawa anak itu tanpa berpikir panjang. Ia bahkan tak sempat memikirkan bahwa anak tersebut merupakan saksi kunci. Jiwa kemanusiaannya yang menggerakan hatinya dan membawa bocah berinisial Ais itu ke tempat aman.

Polisi yang bertugas di reserse Narkoba Mapolrestabes Surabaya itu berkaca-kaca ketika menceritakan apa yang ia alami pada Senin, 14 Mei 2018.  Suaranya bergetar mengingat bocah kecil tersebut di acara Indonesia Lawyer Club 16 Mei 2018. Ia menahan tangisnya yang hampir pecah.

Meskipun orang tua sang bocah melakukan hal yang tidak dikehendaki semua orang, namun bagi AKBP Roni, Ais tetap harus diselamatkan. “Ini bukan aksi heroik,” katanya.

Hal ini juga terjadi pada kerusuhan Mako Brimob lalu. Pasca kerusuhan, seorang anggota Brimob nampak menggendong seorang bayi. Sang Ibu diperiksa oleh aparat ketika akan dipindahkan ke Nusa Kambangan. Sebelumnya penyerbuan tidak dilakukan oleh aparat mengingat Rumah Tahanan (Rutan) yang dikuasai oleh narapidana teroris saat itu karena masih terdapat sandera di dalam Rutan dan bayi. Aparat sempat meminta sang ibu untuk keluar dari Rutan dan membawa bayinya. Namun ibunya menolak dan memilih berada didalam kerusuhan saat itu.

Upaya yang dilakukan aparat kepolisian di Surabaya maupun Mako Brimob atas dasar kemanusiaan. Kemanusiaan bukan hanya sekedar akal budi, namun bagaimana perasaan membuat kita memperlakukan manusia lain dengan baik selayaknya kita ingin diperlakukan. Kemanusiaan mendobrak sekat yang tercipta.

Kemanusiaan ini menjadi pendorong bagaimana perdamaian tercipta. Banyak konflik berawal dari manusia yang kehilangan rasa kemanusiaannya. Maka, jika kita sedikit saja mau berteman dengan rasa kemanusiaan, maka perdamaian akan terjaga di dunia.

 

sumber foto : ILC Youtube

Leave a Comment

Your email address will not be published.

12 + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like