Mencecap Ramadan di Tanah Konflik

By

Oleh: Nurshadrina Khaira Dhania

Ramadan tiba, Ramadan tiba, Ramadan tiba

Marhaban ya Ramadan

Marhaban ya Ramadan

Penggalan lagu bertajuk Ramadan Tiba yang dinyanyikan Opick di album Cahaya Hati (2008) itu tak asing di telinga kita. Lagu – lagu itu belakangan sudah mulai bergema lagi. Apalagi iklan sirup sudah mulai berseliweran di layar televisi kita.

Pertanda apa itu? yap! Kalau di Indonesia, itu adalah pertanda Ramadan sebentar lagi datang hehehe.

Saat ini Nisfu Syaban sudah lewat, alias pertengahan bulan Syaban. Artinya, sebentar lagi kalau dalam kalender Islam kita akan memasuki Ramadan. Bulan yang istimewa karena Ramadan adalah bulan penuh ampunan sekaligus ladang pahala bagi umat Muslim. Bagaimana tidak? di bulan ini semua amalan dilipatgandakan, setan dibelenggu, dan lebih istimewanya lagi adalah adanya perintah berpuasa di bulan itu.

Saya sendiri tak sabar menyambutnya. Siapa yang tidak senang, di bulan itu bisa menikmati aneka takjil, bertemu saudara, teman dalam acara buka puasa bersama. Insya Allah segera dipertemukan.

Tapi tak kalah istimewa lagi, karena Ramadan tahun ini saya kembali di Indonesia. Dua tahun sebelumnya, saya merasakan Ramadan nun jauh di sana, negara Suriah. Berjumpa Ramadan di negeri 4 musim itu adalah kali pertama saya dan keluarga. Berpuasa dengan jam yang lebih panjang.

Dua kali Ramadan di sana, cukup berat. Waktu Fajar pukul 4 pagi dan Magrib alias waktu berbuka sekira pukul 8 malam. Bisa dibayangkan berpuasa lebih dari 12 jam. Apalagi saat musim panas tiba. Panas plus angin kering berhembus.

Saat siang, tidak ada listrik. Jadi tidak mungkin kami menyalakan mesin pendingin atau sekadar kipas angin untuk mengusir panas. Modalnya hanya handuk yang dibasahkan, lalu ditaruh di kepala atau baju kami diguyur air. Mencoba bertahan untuk tetap berpuasa di kondisi panas yang luar biasa.

Tapi handuk atau baju yang basah itu tak banyak menolong. Karena beberapa menit saja, pastilah sudah kembali kering. Kalah dengan teriknya siang. Tidur siang di lantai tetap saja panas. Belum lagi, badai pasir yang seringkali datang tak diundang. Kedatangannya membuat kami harus cepat-cepat menutup rapat pintu dan semua jendela tempat tinggal kami.

Di negeri tempat pecah konflik itu, rupanya pesawat tempur juga tak ikut “berpuasa”. Mesin-mesin terbang itu tetap saja membombardir kota. Pagi, siang, malam, sampai menjelang waktu sahur pun mereka tidak pernah lelah membombardir.

Tapi di sisi lain, itu pula yang membuat kami tak perlu alarm bangun sahur di sana. Dentuman bom yang dijatuhkan pesawat tempur sangat ampuh membangunkan kami. Mulai terlelap, kaget, takut dan bersegera sahur.

Seperti pagi itu di di Kota Raqqa, Suriah, tempat kami tinggal. Sekira pukul 2 pagi, rumah susun 5 lantai di komplek tempat kami tinggal beberapa kali dihantam bom. Bangunan itu ambruk rata dengan tanah.

Suaranya begitu menggelegar. Membuat siapa saja yang mendengar jadi ciut nyalinya. Kami yang tinggal tak jauh dari lokasi jatuhnya bom, tentu saja kaget plus takut. Kencangnya suara dan getaran bahkan sampai membuat pintu kamar tante terbuka lebar.

Tak lama, komplek perumahan tempat saya tinggal jadi ramai. Orang-orang saling memanggil, suara anak-anak kecil menangis ketakutan mulai terdengar. Pagi buta yang menakutkan!

Paginya atau beberapa jam kemudian setelah terbit matahari, aku dapat kabar dari tetangga, ada bayi yang masih hidup di bawah reruntuhan gedung yang hancur itu. Subhanallah. Belum ajalnya.

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau pecepatan sesaat pun” (Al-A’raf :34)

Menyiapkan Menu

Untuk bisa santap sahur dan buka puasa, tentu saja harus ada menu tersaji. Nah untuk ini, kami biasa berbelanja di pasar yang masih buka sepanjang hari. Kalau sore hari di sana, jelang magrib, pasar sudah mulai ramai. Banyak orang berjualan takjil. Tapi, beda loo ramainya dengan Indonesia yang lebih heboh.

Terkadang kami membeli roti bakar isi keju yang bentuknya mirip perahu, kebab ataupun jeruk peras untuk minum. Tentunya di tengah keterbatasan finansial. Suatu waktu saudaraku mencoba minuman manis untuk berbuka, tapi setelah dicoba rasanya tidak enak.

Makanan dan minuman di sana hampir semuanya khas Arab atau Suriah. Jadi terasa aneh di lidah Indonesia kami. Mana ada yang jualan kolak pisang atau bubur candil! Hehehe.

Sebab Ramadan jatuh pada musim panas, banyak orang berjualan es krim dan buuza atau es batu yang ukurannya sangat besar. Kami sesekali membelinya untuk membuat es teh manis saat berbuka puasa. Kami hanya membelinya seperempat balok. Itu sudah cukup besar.

Alhamdulilah, meski kondisi berat, Ramadan 2016 kami bisa lewati. Full! sebulan penuh!

Kabur dari Raqqa

Setahun kemudian, kami belum bisa pulang ke Indonesia. Alhasil, kami melewati lagi Ramadan di sana. Kali ini saya rasakan lebih berat. Sebabnya, pada Ramadan 2017 itu ada operasi besar yang dilakukan pasukan koalisi untuk merebut Kota Raqqa dari cengkaraman ISIS. Sebenarnya, sebelum 1 Ramadan, mereka telah melakukan operasi di pinggiran-pinggiran Kota Raqqa, merebut desa-desa pinggiran sebelum masuk sentralnya.

Tak jauh beda dengan setahun sebelumnya, Ramadan 2017 itu masih banyak “pesta kembang api”. Makin banyak malahan. Kami harus tetap measakan terangnya cahaya flare bomb, tembakan dari pesawat A10 dan roket di waktu sahur. Sekali lagi, kami tak perlu kentongan atau alarm untuk membangunkan sahur.

Seperti tepat pada 1 Ramadan, pasukan koalisi internasional memulai operasi besarnya. Sahur pertama kali disambut dengan adu tembak antara pasukan koalisi dengan ISIS. Menyeramkan? Ya! Sangat! Kami sempat melihat cahaya yang begitu terang dari jendela dapur.

Itu sempat membuat saya dan saudara saya kepo. Apaan sih itu? cahayanya terang sekali, dari bawah menuju angkasa disertai asap. Dan itu lebih dari satu kali.

Karena penasaran, paginya saya ke warnet. Browsing. Mencari tahu apa yang terjadi di malam sahur itu. Lewat berita via Twitter, ternyata itu flarebomb. Sampai sekarang saya belum tahu siapa yang menembakannya. Apakah pasukan koalisi ataukah ISIS? Saya sempat merekam dengan smartphone dari balkon rumah.  

Alhamdulillah, Allah memberikan jalan keluar untuk kami di Ramadan 2017. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! Yakni pada 10 Juni 2017 alias sudah pertengahan Ramadan, kami menginjakkan kaki di daerah Kurdi Suriah alias sudah lepas dari wilayah ISIS.

Kami sempat 2 minggu lebih tak berpuasa. Sebabnya, saat itulah kami mencoba kabur dari Kota Raqqa dengan bantuan smuggler alias penyelundup. Kami semua dalam perjalanan. Medannya berat. Sebut saja, kami sempat harus memanjat jembatan yang telah dibom untuk masuk desa penyelundup. Kami sempat ditembaki beberapa kali oleh sniper.

Sampai akhirnya kami sampailah ke tenda pengungsian UNHCR. Perempuan ditempatkan di Ain Issa, Suriah. Itu adalah kamp pengungsian. Sampai Idul Fitri 2017 tiba, kami masih di tenda pengungsian. Setelah itu, akhirnya kami bisa pulang ke Indonesia. Negara yang aman dan nyaman, damai tanpa perang.

Saya tentunya sangat bersyukur. Insya Allah, sebentar lagi bisa lihat kolak pisang, es durian, sirup Marjan ataupun hidangan takjil lain khas Indonesia. Juga tak kalah suasana Ramadan lainnya yang khas di Indonesia. Seperti kembang api dan mercon yang dimainkan anak-anak menjelang berbuka puasa.

Alhamdulillah ‘alaa kulli hal

  1. Al-Baqoroh : 183 -187

[183] Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ramadan is Coming. 

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman:16)

Sumber foto : http://www.peduliberbagi.com/2016/06/ramadhan-peduli-suriah-dpu-daarut.html?m=0

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like