Generasi Mie Tek Tek

By

Lapar menjadi urusan yang cukup rumit. Ini akan menjadi ujian yang keji saat terjadi di Jakarta saat malam hari. Kemacetan Jakarta yang tak berujung, harga makan yang mahal dan kosan di penghujung gang akan menambah rentetan pemicu stress malam itu.

‘Tek tek tek’ sang pahlawan datang.

“Bang! Mie tek tek satu!” Teriakan itu membahana setiap pahlawan perut lapar itu membunyikan sirinenya.

Aromanya memang tak seperti Ind*mie yang jika bumbunya ditabur, seluruh dunia tergoda bujuk rayunya. Prosesnya pun harus menunggu antrian dan racikan resep rahasia. Terlalu banyak makna meski hanya sekedar mie tektek.

Bumbunya bisa pesan “gak pake micin” maka akan ada tambahan garam. Sayur dan topping daging-dagingan bisa dipilih sesuai selera. Mie-nya hanya mie telor biasa dan akan lebih greget melalui sentuhan tangan abangnya. Sehat, murah dan memenuhi standar gizi.

Selain itu, antrian yang panjang bukan halangan, kawan. Ada silaturahmi baru yang terjalin antar sesama pelanggan. Kadang hanya dimulai dari tubrukan antri, masuk perkenalan dan siapa tahu bisa jadi teman vape bareng. Jika tidak dapat teman baru, ya barangkali dapat jodoh. Mie tektek pembawa berkah.

Apa? Apa? Efisien? Mie instan memang lebih cepat. Tapi belum tentu efisien. Efisien menurut KBBI itu tepat guna, bukan sekedar cepat sodarah. Jadi, kalau cepat tapi akhirnya sakit tifus, gak bergizi makannya dan bikin obsesitas, itu gak efisien tapi mager (males gerak).

Eh guys, sekarang ini banyak hal yang sengaja dibuat agar menjadi instan. Google, online shop, mie instan, nasi goreng instan, seblak instan, semuanya instan cuy. Semua yang awalnya sulit, jadi serba mudah. Ya memang sih, hidup udah sulit. Paham.

Tapi kebiasaan instan berpengaruh pada daya juang seseorang menurut Risman Hery, seorang ahli psikologi. Khawatirnya ini membuat orang memudahkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Akhirnya juga seseorang menjadi tidak begitu peduli dengan proses dan pembelajaran orang lain. Judgement by cover akan semakin marak karena mencari yang lebih jelas dianggap tidak effisien.

Kebayang gak sih gimana dunia ini kalau semua orang mager? Muda sih oke, tapi kalau mager ya yakin kamu masih muda?

Fenomena ini disadari betul oleh CISFORM UIN Yogyakarta dan CISFORM. Kedua lembaga ini kemudian bekerjasama membuat Film Animasi Religi. Film Animasi ini made in Indonesia, setara ama Upin Ipin pokoknya. Setidaknya ada 40 film animasi yang berisi pendidikan religi dan mengajarkan untuk tabayyun. Keren banget kan?

Launching film ini diadakan di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta dengan menghadirkan Dhania (returnees) dan Dr. Syakroni Rofii (ustadz muda). Pelajar SMA dan Mahasiswa juga turut hadir sebagai peserta.

Yuk Cek aja channelnya https://www.youtube.com/channel/UCLL5VsrBABdk98EYGj03K6A

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: