Aku Nyate Maka Aku Ada

By

Oleh: Eka Setiawan

SOLO

Tokoh filsafat moderen asal Negeri Napoleon, Rene Descartes, pernah berujar ‘cogito ergo sum’ yang artinya aku berpikir maka aku ada.

Telaah ungkapan bahasa Latin itu kira-kira; orang akan diakui eksistensinya ketika dia berpikir alias menggunakan otaknya sebagai anugerah Yang Maha Kuasa.

Agaknya hal ini juga bisa dipelesetkan berlaku dengan ‘Aku Nyate Maka Aku Ada’. Loh kenapa nyate? Ya pada masyarakat konsumsi, di era postmo seperti sekarang, konsumsi atas sesuatu tak lagi final pada substansinya, melainkan pada simbol-simbol yang melekat pada apa yang dikonsumsi itu.

Seperti juga yang disebut sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu (pada John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, Yogyakarta; Jalasutra); konsumsi adalah satu jalan yang bertujuan untuk mendapatkan identitas diri. Konsumsi digunakan untuk tujuan pembedaan sosial. Komoditas yang dikonsumsi, difungsikan sebagai penanda. Orang-orang ingin dimaknai secara berbeda lewat kegiatan konsumsinya.

Misalnya begini; soal minum kopi, di mana-mana kopi ya begitu bentuknya. Hitam, kalau agak cokelat muda biasa dicampur susu atau krim. Dari angkringan hingga kedai kopi mewah bisa saja menyediakan. Tapi apa yang membedakannya? Kelas. Ngopi di kedai ternama bisa membuat si peminum seolah naik strata sosialnya, di bandingkan dengan ngopi di angkringan pinggir jalan.

Meski ada juga kawan yang misuh, sepulang dari kedai itu.

“Lha kopi kok regane 50-ewu segelas, larang tenan. Kapok aku. Mending ngopi nang angkringan, isi dompet selamat,” kata seorang teman suatu waktu.

Setelah misuhmisuh, kawan itu kemudian melanjutkan. “Tapi ora popo lah, sekali-sekali ben ketok keren, larang sithik sing penting nggaya, ketok sugih,” tambahnya.

Nahhh!!! Rupanya kawan itu pingin nggaya, ngopi di situ. Walaupun isi dompet pas-pasan, tapi hasrat untuk eksis dan tampil berkelas di ruang sosial (khususnya: pesan, cekrek, upload di era medsos), mengalahkan akal sehatnya.

Selepas ngopi di kedai itu, kawan saya tak makan malam.

“Diet Bos?!!!,” godaku.

“Diet gundulmu, jatah makan malam wis entek gorogoro bayar kopi,” timpalnya kembali misuh.

Hahahaha! Akhirnya kami misuh bareng. Sebab, saya juga pernah mengalaminya: terjebak hasrat eksis. Hahahaha!

Soal konsumsi dan kelas itu, sama halnya dengan panganan sate kere, yang saya temui di gelaran Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) Sabtu (14/4/2018) lalu di Stadion Manahan Solo. Dari namanya saja sudah jelas, panganan ini adalah simbol kelas.

Kere dalam bahasa Jawa bisa diartikan miskin. Sate orang miskin. Kalau sate, kita semua tentu sudah tahu, panganan lezat berbentuk daging ditusuk dan dibakar bara api, yang harganya cukup mahal untuk kantong-kantong kere, macam penulis ini.

Di beberapa orang yang pernah saya temui, makan sate adalah suatu hal yang sakral. Kadang, makan sate hanya dijumpai saat Idul Kurban tiba. Setahun sekali makan sate kambing atau sapi yang dagingnya hasil pemberian tetangga kaya atau jatah masjid. Pada kantong-kantong kering; sate dan mahal adalah satu helaan nafas. Allahu Akbar! Takbir!

Kembali ke sate kere tadi. Konon, panganan ini sudah ada sejak zaman kolonial atau era penjajahan. Di mana saat itu masyarakat juga sudah terbagi kelas-kelasnya; kelas sugih dan kelas kere. Bangsawan dan masyarakat biasa alias wong cilik. Pembagian strata itu didasarkan pada duit (harta) yang mereka punya.

Orang yang ekonominya susah, jangankan makan sate, untuk makan sekali sehari saja secara rutin kadang belum tentu bisa. Di sinilah sate kere menunjukkan kelasnya.

Sate kere awalnya hanya merupakan gembus alias tempe dari olahan sisa kedelai atau ampas tahu, kemudian ditusuk lalu dibakar di atas bara api. Perlahan, panganan itu bermetamorfosis. Komposisi sate kere tak hanya gembus, tapi juga dicampur jeroan sapi mulai dari; iso, babat, hingga ginjal.

Karena metamorfosis inilah, harga sate kere pun ikut bermetamorfosis. Dari awalnya sekira 10ribuan, karena dicampur jeroan sapi harganya bisa lebih dari 30 ribu satu porsi. Isinya; sate 10 tusuk, 2 di antaranya gembus, dicampur nasi atau lontong plus minuman. Persis yang saya temui saat SICF 2018 kemarin.

Kala itu saya makan sate kere bersama 2 kawan; mereka adalah para penerus bangsa yang kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kami makan Sate Kere Yu Rebi. Dari cerita orang-orang, termasuk kawan saya itu, Sate Kere Yu Rebi itu yang paling terkenal di Solo. Ada dua warungnya, lokasinya di Jalan Kebangkitan Nasional Solo.

“Ini sudah tiga puluh tahun lebih. Kalau Yu Rebi masih hidup, tapi sudah sepuh. Jadi diteruskan familinya, tapi masih masak juga (Yu Rebi),” kata seorang pria sambil ngipasi sate kere di atas bara api. Pria itu karyawan di sana.

Perempuan di balik dagangan itu, bernama Sari. Sudah ibu-ibu. Tapi saat itu cukup sulit mewawancarainya. Sebabnya, pesanan penuh banget. Antrean panjang konsumen ingin menikmati sajian sate kere itu.

Ngapuntene ya Mas, sibuk banget,” kata Bu Sari.

Kami melanjutkan makan sembari cekrek-cekrek pakai kamera DSLR. Nggaya sithik. Rasanya memang lezat dan membuat kenyang.

Setelah makan kami berkeliling arena festival. Ada berbagai panganan dan minuman lain yang dijajakan. Termasuk sate-sate lain yang dijajakan di berbagai kedai. Di antaranya; sate jamur, sate kambing, sate ayam, sate jamur hingga sate taichan yang kekinian. Untuk yang terakhir ini, antreannya mengular panjang persis seperti antrean di SPBU kala harga bensin mau naik. Ada pertarungan simbolik di antara para sate yang ditawarkan.

Esoknya saya bertemu seorang kawan sepekerjaan. Cerita ngalorngidul, termasuk soal sate kere itu.

“Walah regane kok sakmono ya, ora sate kere kuwi, tapi sate marai kere, mungkin harga festival ya,” celetuk kawan saya menimpali.

Tapi apapun itu, sate kere punya cerita tersendiri. Sate kere begitu ikonik. Pada setusuk satenya bisa jadi simbol perjuangan kelas. Proletar ke borjuis.

Tapi, eitt, tunggu dulu…saat Presiden mantu pernikahan Kahiyang – Bobby pada November 2017 lalu di Solo, sate kere juga satu dari berbagai hidangan yang disajikan kepada pejabat-pejabat tamu undangan. Mereka tentunya orang-orang penting dan berduit kan, alias tidak kere.

Ya, semoga makan sate kere itu bisa jadi pengingat masih banyak warga yang kere betulan. Bukan hanya simbolisasi egaliter demi persamaan harkat dan martabat warga negara.

Mari Nyate Kere…Horeee!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: