Berani Hidup, Hebat!

By

Oleh : Eka Setiawan

R (inisial), pria 30an tahun yang bakar diri untuk bunuh diri bareng pasangannya (kekasih) di Surabaya, dinyatakan meninggal dunia Sabtu (14/4/2018) pukul 05.50 WIB.

Penggalan berita itu adalah informasi update dari insiden pasangan kekasih yang sepakat bakar diri di sebuah kamar kos di Surabaya, Kamis (5/4/2018) tengah malam.

Berita awal yang secara tiba-tiba muncul di LineToday sebelumnya itu sempat membuat saya mengernyitkan dahi : sepasang kekasih bakar diri! Wah-wah, merendahkan akal sehat banget ini peristiwanya.

Hubungan antara pasangan kekasih dan bakar membakar yang saya tahu, biasanya; bakar-bakaran ikan di pinggir pantai sembari berlibur, bakar jagung sembari menikmati indahnya puncak gunung, ataupun terbakar cemburu. Lha iki; bakar diri! Kan yo ngeri to Mas, Mbak…mbok kiro Nabi Ibrahim yang kebal api saat dibakar Raja Namrud. Nabi Ibrahim itu dapat mukjizat dari Gusti Allah, jadi wajar kalau api tidak membakarnya.

Tapi apapun ending ceritanya, kisah sepasang kekasih menantang maut bukan sekali ini terjadi. Sejarah telah mencatatnya.

Sebut saja cerita Mesir dan Romawi kuno tentang Cleopatra dan Mark Antonius. Konon Mark Antonius mendapat berita hoax kematian Cleopatra. Akhirnya Mark mengakhiri hidup dengan pedangnya. Sementara Cleopatra, konon akhirnya bunuh diri juga dengan bisa ular Kobra setelah mendengar kematian Mark.

Jargon ‘sehidup semati’ sepasang kekasih di dunia romantisme agaknya dimulai dari sini. Walaupun tidak bakar-bakaran, mereka memilih pedang dan bisa ular atas nama kesetiaan. Mungkin kalau saat itu sudah ada sosial media, berita itu akan jadi trending topic di dunia maya.

Soal bakar-bakar ini, saya juga jadi ingat tradisi Sati di India. Yang mana, si perempuan rela terjun di kobaran bara api saat prosesi kremasi suaminya sebagai manifestasi rasa cinta yang luar biasa. Tradisi India kuno yang kabarnya sekarang sudah dilarang ini juga sukses membikin jungkir balik logika saya.

Adik kelas saya pernah mementaskannya di Pos Kreativitas di pelataran Kompleks Candi Dieng saat saya kebagian ngospek adik angkatan di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Undip. Saat itu tahun 2008.

Saya yang saat itu (sudah) jadi senior (mulai karatan) nugasi pada mahasiswa baru. Saat rombongan (regu/kelompok/komplotan) mereka masuk pos tempat saya bersila, tak suruh ambil undian. Bentuknya kertas kecil yang masing-masing tertulis aneka tradisi ataupun cerita bahkan mitos Roro Jonggrang. Kertas itu digulung menyerupai kocokan arisan yang saya masukkan dalam bungkus rokok. Saya di pos itu bersama satu lagi senior yang lebih karatan, Devi Aribowo angkatan 2002. Saya dua tahun di bawahnya.

“Ambil satu dari dalam bungkus itu,” kata saya duduk di atas pelataran candi.

“Wah saya nggakngerokok Kak,” jawab salah satu dari rombongan itu.

Lho siapa yang nyuruh kamu ngerokok,” timpal saya.

“Lha kan bungkus rokok Kak,” dia masih ngeyel.

Yo dijipuk sik, deloken jerone. Ora ngeyel- ngeyelan,” saya mulai tertarik untuk njitak dia pelan-pelan.

“Siappp,” katanya akhirnya menurut.

“Isinya kertas Kak, tulisannya Sati,” jawabnya lagi.

Yowis, coba pentaskan. Orasah tanya apa itu Sati, kalian cah Sejarah,” saya agak pongah hahahaha sembari bersiap menonton pertunjukan bakar-bakaran gratis. Mbatin.

Mereka kemudian berdiskusi cepat, membagi peran dan pentas. Kira-kira begini; mahasiswi nangis-nangis karena kekasihnya (baca: suami) meninggal karena overdosis revisi skripsi. Untuk membuktikan kesetiannya, dia akhirnya rela terjun ke kobaran api setelah teman-temannya berperan sebagai mereka yang menyiapkan upacara menuju dan pascakematian.

Si mahasiwi juga meninggal dunia, menyusul arwah kekasihnya (ya kalau ketemu, kalau enggak???). Kisahpun ditutup dengan tangis (bayaran) dan :

“Kelompok kami udah menerima dan menyelesaikan tugas pentas Kak, izin melanjutkan perjalanan pos dan dinilai yang bagus ya Kaak,” kata mereka agak kompak.

Saya tepuk tangan, oke juga ini pentas. Senior saya yang ikut berjaga pun demikian, tepuk tangan sambil pegangi perutnya karena ngguyukemekelen.

Ya, akal sehat saya menakar bakar-bakar seperti itu seharusnya cuma ada dalam pentas saja. Bukan di dunia nyata. Apalagi bakar-bakar atau bunuh diri mencelakakan diri sekaligus orang lain atasnama agama. Nah! Toh, bunuh diri juga jelas perbuatan keji kan? Agama sudah memperingatkan itu.

Saya juga punya keyakinan: Orang hebat itu bukan orang yang berani mati, tapi berani hidup! Ra percoyo??? Jajal kono.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

one × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like