Menjemput Air Menata Hidup (2)

By

Oleh: Nurshadrina Khaira Dhania

 

Seperti biasa, aku dan keluargaku bersiap menjemput truk tangki air di perkemahan pengungsi UNHCR, Ain Issa, Provinsi Raqqa, Suriah. Tangan-tangan kami membawa jeriken yang siap diisi air bersih

Untuk bisa mengambil air itu, kami tak bisa langsung. Beberapa kali, kami harus menunggu di lokasi biasa truk tangki berhenti. Sama seperti beberapa orang senasib dengan kami. Harap-harap cemas sembari menenteng jeriken.

Deru truk yang datang dari kejauhan menimbulkan terpaan debu luar biasa. Tapi kedatangan itulah yang kami tunggu. Kami harus beradu menerjang debu, berlarian mendekatinya. Beberapa pengungsi terlihat kerepotan berlari. Salah satu sebabnya, mereka membawa jeriken yang ukurannya segede gaban.

Aku sempat tertawa melihat tingkah mereka. Repot karena bawaannya sendiri. Tapi tawa itu cepat-cepat aku usaikan, karena aku juga perlu air. Alhasil, aku juga ikut berlarian menjemput truk tangki air. Persis adegan sinetron-sinetron alay ketika dua sejoli bertemu setelah menunggu beberapa waktu, berlarian sambil membawa bunga atau cokelat, tentunya bukan membawa jeriken air lah. Ahhh romantisme muda mudi.

Soal isi mengisi air ini kadang masih ada saja yang terlihat tak sabaran. Beberapa pengungsi memaksa untuk minta air dari tangki diisikan langsung ke jeriken mereka lewat selang truk. Alhasil, air sering tumpah-tumpah terbuang.

Karena takut kehabisan, kami akhirnya ikut-ikutan juga. Mencoba mengisikan air langsung dari tangki truk lewat selang ke jeriken-jerikan yang kami bawa. Baju kami sering basah terkena cipratan-cipratan air. Tapi di satu sisi, itu beruntung, karena jadi lumayan adem.

Untuk mengisi air dari tangki ini, sesekali ini bisa berhasil. Tapi biasanya, karena berebut yang makin ruwet, si petugas pengisi air akan tampak kesal dan meminta kami untuk tertib. Dia kemudian mengisi air di tangki penampungan. Kami diminta mengantre dengan tertib untuk mengisi dari sana.

Tertib sebentar, kemudian kembali berebut. Itu kalau tangki penampungan sudah penuh terisi air. Antrean yang awalnya tertib, sontak jadi bubar. Semuanya merangsek mendekat. Semuanya ingin cepat. Aku lihat ini hanya satu dua orang saja yang provokasi tak tertib. Tapi itulah yang akhirnya membuat pengantre lainnya jadi panik. Antrean pun bubar. Hahaha.

Anak-anak kecil kerap tersisih. Mereka suka diserobot antreannya sama yang gedegede.

Aku sering kasihan melihat itu. Sudah antre, apalagi anak kecil, masih saja diserobot. Seharusnya mereka malah yang diutamakan, bukan sebaliknya kan? Kami tak mau ikut-ikutan menyerobot antrean. Kami manusia yang masih punya nurani, membela yang terzalimi!

“Hey…Akhi! Anta la! Hiya awwal, wa huwa tssani, wa anta tsaalits…anta lazim sobr.sobr,! (Hei Akhi! Kamu jangan gitu. Dia pertama, duluan dia, kedua dan kamu yang ketiga. Kamu harus sabar, sabar!),kataku dengan bahasa arab yang tidak sesuai dengan tata bahasa, sambil menunjuk siapa yang pertama, kedua dan ketiga.  

Karena aku tak tahu apa bahasa Arabnya antre, jadi aku bilang saja pakai nomor urut dan berharap laki-laki yang nyerobot antrean itu bisa bersabar. Walaupun kasihan dengan anak-anak kecil, tapi terkadang aku juga kesel. Sebab, kalau udah nggak ada yang ambil air, banyak anak-anak justru main-main air. Aku tahu mereka kepanasan, tapi ya jangan buang-buang air gitu doong. Makanya, sesekali aku sering tegur mereka.

Di sini, soal air bisa menimbulkan banyak kejadian luar biasa. Setidaknya itu menurutku. Contohnya; aku sempat ribut dengan seorang wanita.

“Ukhti, anti laysa hakadza. Huwa awwal minnik! (Ukhti, kamu nggak bisa seperti itu. Dia lebih dulu dari kamu!), marahku tak terbendung pada wanita itu.

Rupanya, dia malah balik marah.

Aku sempat beradu ember dan jeriken dengannya di bawah keran yang mengucur. Kami rebutan. Sebab tidak ada yang mau mengalah. Maunya sama-sama lebih dulu ngisi air. Padahal, aku sudah datang duluan, tapi diserobot. Sempat bertahan, tapi aku kalah. Aku menunggu dengan dongkol. Ternyata, wanita yang sempat beradu ember denganku, persis tinggal di tenda sebelahku.

Kejadian ini, tidak hanya menimpaku saja. Beberapa saudaraku juga pernah mengalami hal-hal yang luar biasa tak enak ketika mengambil air. Contohnya; ibu dan adikku pernah disiram air oleh salah satu pengungsi asal Suriah. Dia membenci ISIS, menganggap kami ISIS. Maka kami diperlakukan kasar olehnya.

Kami sempat laporkan ke tentara Kurdi yang sedang berjaga. Tapi tak lama, wanita itu menghilang. Mungkin, dia takut karena kami bawa-bawa tentara. Tentara Kurdi sempat berpesan kepada kami, apabila sesuatu terjadi, laporkan saja.

Kami mencoba tetap bersabar atas kejadian itu.

Ada lagi kejadian seorang remaja perempuan ngebuang air satu ember hanya karena di ember itu ada kotoran kecil. Dongkol sih. Udah tau, air susah, ini malah dibuang seenaknya aja. Dia bilang, kata bapaknya ini untuk air minum. Padahal kan,  bisa untuk kebutuhan MCK atau cuci-cuci.

Belum lagi anak-anak kecil yang suka mainan keran air sampai rusak. Kalau sudah begini, air dari tangki bakal ngucur terus. Sayang banget kan ngelihatnya? Aku sering cari kayu atau plastik buat nutup keran yang rusak itu.

Walaupun air bersih cukup susah didapat, kami mencoba  ingin selalu berbagi. Termasuk dengan hewan. Di belakang tenda kami, ada seekor kuda berwarna cokelat tua. Ibuku menamainya Nido.

Pemiliknya jarang memberikan Nido makan dan minum. Kami sering mengambilkan beberapa ember air untuk Nido minum. Sisa air cucian sering kami siramkan ke badan Nido, agar tidak kepanasan dan kering badannya. Nido biasa makan kulit semangka, melon, pisang atau sisa-sisa makanan lain.

“Dan Allah lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum  kedatangan rahmatnya, dan kami turunkan dari langit air yang bersih. Agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negri yang mati, dan Kami memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak” (Al-Furqon;48-49)

Awal-awal di perkemahan pengungsi, kami masih minum air mineral kemasan. Kami masih beli dengan sisa-sisa yang yang kami punya. Tapi lama kelamaan boros juga, uang makin menipis, tak ada pemasukan. Akhirnya, mau tak mau kami harus minum air dari tangki juga.

Walau sering mendapati orang-orang yang tak sabar soal air, ada kalanya aku berjumpa dengan orang baik. Alhamdulillah. Banyak di antara mereka men-support kami. Meski tahu kami pernah terjebak pergi ke Raqqah, tapi mereka tak pedulikan itu.

Salah satunya bernama Ahmad. Aku tahu dia masih berusia 15 tahun. Ahmad kerap membantu mengisi air dari jeriken ke botol-botol kami. Bahkan, ada juga yang bersedia dengan ikhlas membantu kami cuci baju atau peralatan makan.

Oiya! soal mandi dan cuci baju ini, biasanya kami lakukan ketika tangki air sudah penuh. Tapi, suatu waktu, kalau pasokan air sedang susah, kami cuma mandi 3 hari sekali. Kebayang kan, di cuaca yang terik, tinggal di perkemahan pengungsi nan berdebu, kami jarang mandi. Tapi kondisi itu mau tak mau harus kami terima.

Aneka kejadian susahnya memperoleh air bersih itu kerap membuatku merenung. Di perkemahan ini, beribu-ribu kilometer jauhnya dari tempat tinggalku di Indonesia, semuanya serba terbatas. Orang-orang bisa saja jadi beringas gara-gara berebut air. Ya, air adalah kebutuhan primer bagi semua makhluk hidup. Tubuh manusia sendiri, sekira 80 persen terdiri dari air (cairan).

“Dan Allah yang menciptakan manusia dari air, lalu Allah jadikan manusia itu mempunyai keturunan dan mushaharah dan Tuhanmu adalah Maha Kuasa”(Al-Furqon:54)

Renunganku makin dalam, sampai menyesak hati. Itu ketika aku mengingat beberapa tahun sebelumnya, ketika aku masih di rumahku di Indonesia, di mana air dengan mudah didapatkan. Bukannya berhemat, justru aku mudah menghambur-hamburkannya. Aku sering boros air kala itu.

 “Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara setan,dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Al-Isra’ : 27)

 Mengantre air di Ain Issa adalah pelajaran berharga buatku. Antrean ini seolah jadi runutan langkah demi langkah untuk terus memperbaiki hidupku. Tentu juga bersama keluargaku, orang-orang yang aku cintai.

 “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman:13)

 Meski kerap diserobot, diperlakukan kasar, kami harus tetap bersabar. Toh, tetap ada orang-orang baik di sekitar kita. Diperlakukan kasar tak berarti kita lalu jadi kasar. Diserobot bukan berarti kita wajar untuk balas menyerobot.  

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like