Menjemput Air Menata Hidup (1)

By

Oleh: Nurshadrina Khaira Dhania

 

Suatu waktu pada Juni – Agustus 2017 di perkemahan pengungsi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Ain Issa, Provinsi Raqqa, Suriah. Aku berada di sini setelah melarikan diri dari Raqqa, setelah sempat tertipu propaganda ISIS via media sosial. Pun dengan keluargaku.

Pagi itu, sebagaimana biasa setelah salat Subuh, aku dan beberapa saudaraku, seperti bundaku yang kalau itu sakit pinggang dan tante-tanteku yang sudah tua dan sakit, bersemangat mengambil air menggunakan jeriken  pemberian UNHCR.

Air akan kami ambil dari sebuah tangki besar yang sudah disediakan oleh Pasukan Kurdi Suriah dan UNHCR. Walaupun saat itu berstatus tawanan, namun mereka masih cukup manusiawi memperlakukan kami. Pasukan Kurdi dan UNHCR menyediakan banyak tangki besar berisi air bersih, diletakkan dekat dengan kemah-kemah kami.

Pagi itu, air bersih di tangki dekat tenda kami kosong. Sebabnya, hari sebelumnya mobil tangki hanya sekali saja mengisi air bersih. Itupun siang hari. Maka, beberapa jam saja, tangki sudah kosong. Kebetulan, tangki itu lokasinya dekat perkemahan, jadi orang-orang mengambilnya dengan mudah.

Sebab itulah, mau tak mau untuk keperluan mengambil air, kami harus berjalan cukup jauh. Nyaris 200 meter di bawah terik matahari di tengah padang pasir. Kami berjalan menuju tangki lain yang masih tersedia air bersih.

Perkemahan Ain Issa ini amat sangat luas. Aku sendiri pernah dengar dari cerita beberapa orang, katanya orang yang mengungsi di sini Lebih dari 7 ribu orang.

Pagi itu kami bergegas untuk ambil air, sebab persediaan air di tenda kami tinggal sedikit. Jadi, kami harus segera kembali mengambil air untuk keperluan minum,mandi dan sebagainya. Setidaknya untuk keperluan buang air kecil.

Kami memang membuat sebuah kamar mandi sederhana di dalam tenda, khusus untuk mandi dan buang air kecil saja. Kalau untuk keperluan buang air besar (BAB), kami biasa ke WC umum para pengungsi. Kami terbiasa membawa maksimal 3 botol ukuran masing-masing ukuran 1,5 liter untuk keperluan BAB. Sebab, di WC umum itu jarang ada air.

Jeriken air pemberian UNHCR yang sampai saat ini masih aku simpan

Soal air bersih ini, biasanya di perkemahan dekat pasar atau dapur umum, masih ada tangki yang lumayan masih penuh. Tapi yang berat, medan menuju ke sana jalanan naik. Berat euy kalau harus nenteng 2 jeriken di tangan kanan kiri melewati medan seperti itu. Subhanallah. Apalagi cuaca di siang itu terlalu terik buatku, bisa hampir 40 derajat celcius. Panas banget kan? apalagi lokasinya berdebu. Tapi kalau pagi agak lumayan, enggak terlalu panas, malah biasanya sejuk.

Air yang sudah kami ambil, dipindah ke ember kosong. Sejurus kemudian, saudara-saudaraku yang lain bertugas memindahkan air itu ke beberapa botol kosong ukuran 1,5 liter.

Ketika tengah hari tiba, panasnya luar biasa. Maklum, lokasi yang kami tempati adalah padang pasir, pepohonan sangat sedikit. Apalagi saat itu puncak musim panas. Kalau malam, udara sangat dingin, angin bertiup kencang.

Saat terik menerpa, aku rasanya pingin basah-basahan, tapi apa mau dikata, di sini air sangat sulit. Nggak mungkinlah mau boros air hanya untuk basah-basahan, wong untuk mengambilnya saja susahnya minta ampun. Tapi, karena panas itu kadang kami suka nggak kuat. Akhirnya, kami ambil beberapa botol berisi air di kemah untuk keramas.

Sebenarnya agak sayang, tapi karena tak kuat panasnya akhirnya aku lakukan itu, tentu risikonya aku harus siap kembali berjuang mengambil air… (bersambung)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: