Ngopi

Warkop Naik Kelas

By

“Bu, bikinin kopi buat bapak”, teriakan itu nyaris sering terdengar di telinga generasi bangsa. Sang Bapak meminta secangkir kopi kepada istrinya diselingi oleh isapan rokok. Pemandangan pagi yang banyak terjadi di rumah Indonesia.

Ngopi menjadi tradisi turun termurun bapak-bapak dari masa ke masa. Meski banyak perempuan juga suka kopi. Kopi telah menjadi penderek semangat pagi seperti halnya mobil derek Jasa Marga yang membantu mobil mogok di jalan Tol.

Pasca Kopi melewati kerongkongan sampai ginjal, bersamaan dengan itu semangat terus mengalir. Mata seketika melek meski kantong mata panda lebih besar dari Presiden SBY.

Tapi sekarang, percayalah kopi menjadi tingkat maskulinitas laki-laki. Laki yang suka kopi susu sachet dianggap gak sebanding dengan kopi Machiatto ala Starbucks. Kegantengan akan bertambah 30% dari biasanya.

Selain masalah kejantanan, kopi juga berpengaruh kepada tingkat kecerdasan. Khusus pecinta kopi, kafein yang terkandung dalam kopi tak akan berpengaruh. Kopi Robusta atau Arabica atau Kintamani atau kopi-kopi lain, dicicipi oleh penikmatnya dengan fokus dan penuh penghayatan. Kemudian, sang pecinta kopi tahu betul wangi, detail rasa bahkan olahannya seperti apa, bagaimana cara memanggang, termasuk mungkin asal-usul rasa kopinya. Dahsyatkan? Tanpa perlu belajar magician ala Deddy Corbuzeir, dia langsung bisa membaca semuanya. Luwaaaarr byasaaaah.

Satu lagi, pilihan pengolahan kopi menentukan kelas Anda. Saat Anda pilih kopi Espresso, maka Anda adalah pelancong yang suka cita rasa berkelas. Namun apabila Anda suka kopi susu Torabika, maka Anda adalah kelas sederhana. Apabila Anda suka kopi yang diolah menjadi permen, maka Anda kelas Mahasiswa.

Gaya mengopi ini sebenarnya sudah biasa di Indonesia. Warkop (Warung Kopi) menjadi tempat favorit para pecinta kopi. Disana mereka akan bercengkrama masalah rumah tangga hingga masalah negara. Menikmati kopi sekarang bukan sekedar perkara nongkrong. Kopi yang dipilih, pengolahan serta tempatnya menjadi sangat menentukan kelas. Kita akan dapati disana mulai dari mahasiswa cari wifi gratis sampai pecinta kopi fanatik. Warung Kopi bukan lagi Tampomas, dia sudah naik kelas.

Perubahan ini mulai booming sejak munculnya film Filosopi Kopi. Film ini menarik perhatian banyak pihak dan membuat para netizen serius mendalami filosopi dari kopi. Andai ada tulisan menarik tentang cita rasa bandrek. Mungkin warung tenda bandrek bisa jadi naik kelas juga.

Naik kelas memang cuma masalah pride. Perbedaan kemudian terjadi hanya masalah lidah. Setelah lewat lidah, diolah oleh tubuh dan dibuang. Hasil pembuangan Kintamani, Robusta atau Arabica semua sama. Terdikotomi oleh kelas tidak menjadikan fungsi menjadi meningkat, karena ini hanya perbedaan interpretasi selera ye kan?

Perbedaan kelas ini kadang tidak masuk akal. Tapi semua akan selalu masuk akal bagi pecintanya. Sekalipun dalil didebatkan, penggemar kopi akan tetap jadi pecinta. Selalu ada hal yang menarik dari sekedar untuk masuk akal orang lain.

Mungkin pendapat ini bisa salah, mungkin juga benar. Tapi semoga benar. Ya kali salah, ya syukur kalau benar.

Maaf saya gak mau maksa, tapi saya mau anda percaya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

two × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like