Pak Ucup, Pepsi dan Jaga Malam

By

Oleh : Eka Setiawan

 

Suatu malam di tahun 2000 di kawasan perbukitan, Filipina Selatan, teriakan seorang Komandan mengagetkan Cak Ucup.

“Siapa yang siang tadi mampir warung!?,” kata si Komandan.

“Siaap! Semuanya,” para prajurit yang diapelkan malam itu menjawab kompak.

“Siapa yang siang tadi minum Pepsi!,” lanjut si Komandan bertanya kepada para anak buahnya.

Sekitar 20-an prajurit yang diapelkan malam itu hanya bisa diam. Hening! Beberapa di antaranya celingakcelinguk. Cak Ucup ada di antara barisan prajurit yang diapelkan itu.

Untuk beberapa saat, Cak Ucup belum berani mengaku. Sampai akhirnya, setelah mengumpulkan segenap keberanian, Cak Ucup menjawab pertanyaan Komandannya.

“Siap! Saya,” kata Cak Ucup.

Komandan tersenyum, lalu melanjutkan pertanyaannya.

“Kenapa kamu beli Pepsi!? Kan sudah dilarang!,” kata si Komandan.

“Siap! Pengin!,” jawab Cak Ucup.

Tak berhenti sampai di situ, Komandan bertanya lagi.

“Kenapa kamu beli yang botol besar?!,” lanjut Komandan.

“Siap! Karena tadi berdua, kalau botol kecil enggak cukup,” jawab Cak Ucup.

Si Komandan makin tersenyum. Namun, senyum di tengah keremangan suasana hutan perbukitan itu tetap saja menakutkan bagi para anak buahnya. Sebab itulah, tidak ada yang berani berbicara. Mereka hanya mendengar dialog si Komandan dan Cak Ucup.

Seperti sebelumnya, beberapa saat suasana itu sunyi. Sampai kemudian, si Komandan kembali berbicara.

“Siapa yang malam ini tugas piket,” tanya si Komandan.

Ada dua orang di antara prajurit itu yang menjawab. Namun, sejurus kemudian si Komandan langsung melanjutkan bicaranya.

“Malam ini kalian (yang tugas piket) bisa tidur, biar dua orang ini (Cak Ucup dan temannya) yang menggantikan (tugas jaga)!,” perintah si Komandan memberi sanksi.

Kisah itu diceritakan Cak Ucup alias Machmudi Hariono, 42 kepada RUANGNGOBROL.ID akhir Desember 2017 lalu di sebuah warung Kepala Manyung di Kota Semarang, dekat kawasan Kampus Universitas Diponegoro (Undip).

Dia juga punya nama alias Yusuf, sebab itulah dia kerap dipanggil Ucup. Sebutan Cak, dialamatkan kepadanya karena memang dia orang asli Jawa Timur. Panggilan Cak sangat lekat pada tradisi Jawa Timuran.

Cak Ucup saat itu masih muda, usia 20an ketika di Filipina. Keberadannya di Filipina tentu bukan untuk wisata. Cak Ucup nekat berangkat ke Filipina, meninggalkan kuliahnya di semester 2 di salah satu kampus swasta di Jawa Timur.

Cak Ucup memilih bergabung angkat senjata, berjuang bersama Moro Islamic Liberation Front (MILF). Kaum Muslim di Filipina Selatan.

Tujuan sebenarnya Cak Ucup saat itu adalah Poso, Sulawesi Tengah atau Ambon, yang pada tahun 2000 terjadi konflik horizontal. Semangat Cak Ucup, sebagai Muslimin muda saat itu, ingin membantu umat Muslim yang sedang perang di sana.

Tapi kedatangan awalnya di Poso, ditolak oleh seseorang di sana. Sebab semangat sudah membara, akhirnya pilihan masuk ke Filipina jadi pengobatnya.

Cak Ucup mengenang, saat ke Filipina dia bergabung bersama sekitar 20 pemuda lain dari Indonesia pada tahun 2000. Cak Ucup menyebutnya angkatan ke 2. Kala itu, Cak Ucup masih bujangan.

Di sana, para Muslimin muda dari Indonesia, dilatih ala militer. Taktik, strategi, membaca peta, survival alam bebas, hingga teori-teori persenjataan adalah di antara materi yang didapatnya. Semuanya dididik secara militer. Sebab itulah, penyebutan Komandan sebagai atasannya, familiar digunakan. Dan Cak Ucup saat itu adalah prajurit alias anak buah yang tentunya harus manut perintah atasan.

Lelaki yang kini punya 3 anak itu, mengenang, ada beberapa aturan di kamp militer di Filipina Selatan tersebut. Di antaranya; penampilan harus rapi, rambut tidak boleh gondrong, tidak boleh bernyanyi selain nasyid, tidak boleh menikah selama mengikuti pendidikan, hingga hari-hari larangan berbelanja ke warung saat turun gunung ataupun barang-barang yang boleh atau tidak boleh dibeli.

Seperti siang itu, ketika Cak Ucup bersama satu temannya sesama Mujahidin, nekat mampir warung setelah turun gunung. Awalnya Cak Ucup hanya ingin membeli satu botol Pepsi kecil. Namun, karena tak tega dengan temannya, akhirnya dibelilah botol besar.

Sebetulnya, Cak Ucup tahu itu adalah sebuah pelanggaran. Tapi apa mau dikata, rasa tak tegaan dengan temannya itu, akhirnya membuat Cak Ucup nekat.

“Masak saya sendirian minum Pepsi, teman saya tidak minum,” sambung Cak Ucup.

Awalnya, Cak Ucup menyangka pelanggarannya itu tidak akan ketahuan Komandan. Tapi, cerita berkata lain. Selepas tergesa menghabiskan Pepsi, mereka berdua langsung pergi meninggalkan warung. Hendak kembali ke markas militernya di perbukitan di Filipina Selatan.

“Tapi di tengah jalan bertemu Commander (Komandan), sempat tanya dari mana, kami jawab dari warung. Ternyata Commander itu langsung cek ke warung yang kami mampir, akhirnya ketahuan kami beli Pepsi hehehe,” tutup Cak Ucup. (BERSAMBUNG)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like