Kembangkan Narasi Alternatif, Ustad, Ustadzah, dan Mantan Napiter Harus Kolaborasi

By

JAKARTA – Kolaborasi ustadz, ustadzah, dan mantan terpidana teroris (napiter) sangat penting untuk menciptakan narasi alternatif guna menangkal radikalisme dan terorisme. Hal ini coba diwujudkan oleh Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) melalui sayap komunikasinya, Prasasti Production.

“Kita ingin menjembatani semua elemen itu untuk bisa berdialog dan dapat berkolaborasi,” ujar salah satu Dewan Pembina YPP, Noor Huda Ismail, Rabu 14 Maret 2018 di Park Hotel, Jakarta. Kolaborasi ini diwujudkan dalam bentuk Counter Violence and Extremism (CVE) Communication Workshop di Park Hotel, Jakarta.

Melalui workshop yang digelar selama tiga hari itu, 14 sampai 16 Maret 2018, 10 orang ustadz, 10 orang ustadzah, dan 10 orang mantan napiter akan dilatih dalam hal videografi, public speaking, optimalisasi sosial media, debat dan argumen, dan cara memahami media. Tujuannya agar mereka mampu mengembangkan ide atau narasi alternatif yang dapat berfungsi sebagai penyeimbang narasi radikal dan terorisme.

Dalam beberapa tahun terakhir, sosial media dibanjiri oleh propaganda Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Bahkan mereka memiliki divisi media resmi yang secara reguler menyebarluaskan video, berita, nasyid, ataupun pesan audio. Produk-produk komunikasi ini dikemas dengan baik dan disebarluaskan melalui Twitter, Facebook, YouTube, Google +, Tumblr maupun Telegram. Rontoknya ISIS di Raqqa bukan berarti hilangnya pesona narasi khilafah ala ISIS di Indonesia.

Produk komunikasi ISIS hanya salah satu dari sekian banyak narasi-narasi radikal yang ada. Dengan semakin berkembangnya sosial media dan semakin mudahnya informasi baik benar maupun salah disebarluaskan, maka penting adanya narasi alternative. Pada titik inilah peran ustad, ustadzah, dan mantan napiter itu penting.

Selain itu, menurut Noor Huda, kegiatan yang mengumpulkan tiga elemen penting itu adalah kesempatan untuk menjelaskan beberapa kesalahan dalam memahami isu terorisme. Seperti menyematkan label teroris pada satu kelompok saja, padahal hingga saat ini belum ada profl khusus teroris itu seperti apa. Selain itu, saat seseorang masuk dalam kelompok teroris, hal itu dilatarbelakangi oleh proses sosial yang kompleks. Doktrin agama justru bukan menjadi alasan utama. “Mereka ini orang normal yang tidak memiliki penyakit sosial sakit jiwa, stress, atau dihipnotis,” jelasnya.

Masih banyak lagi hal-hal terkait isu terorisme yang seringkali salah kaprah di masyarakat. Melalui workshop selama tiga hari itu, hal-hal tersebuat akan dikupas dan didiskusikan. Sehingga pada hari terakhir dapat dihasilkan strategi bersama untuk mengembangkan narasi alternatif. “Karena negara dalam beberapa hal bukanlah aktor yang tepat untuk melakukan kerja-kerja preventif seperti ini. Bahkan bisa jadi kebijakan negara lah yang mendorong mereka menjadi radikal,” kata Noor Huda Ismail.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

9 + five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like